Posting Terbaru

Minggu, 01 Maret 2009

UPAYA MELAHIRKAN GENERASI PEMBELAJAR

Pemberian ruang dan waktu secara teratur pada anak untuk menemukan dan mengkreasikan realitas yang dihadapi atau dipelajari, melewati setiap tahapan dalam kehidupan, memahami atau menghayati sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka hadapi. Akhirnya lahir generasi yang memiliki paradigma baru yang up to date dan asli (original)
Melahirkan atau membangun generasi pembelajar yang inovatif tidak bisa instant, tapi perlu waktu. Kecenderungan anak-anak Indonesia untuk menghapal merupakan salah satu fenomena yang menghambat tumbuhnya generasi pembelajar. Anak-anak kurang dukungan untuk memahami konsep dalam proses belajar mengajar.
Selama ini produk pendidikan selalu dinilai dari pencapaian nilai akademik semata, sehingga nilai-nilai lain seringkali diabaikan.
Saat ini sudah waktunya para praktisi pendidikan, orangtua dan masyarakat bersama-sama memiliki komitmen untuk membangun generasi pembelajar bukan generasi penghapal. Generasi yang mampu mencari tahu mengapa dan bagaimana?.
Mendidik anak berani bertanya. Jangan membatasi keberanian anak untuk bertanya, dan jangan anggap anak yang suka bertanya itu bodoh. Biarkan anak mengembangkan kreatifitasnya, mari kita perhatikan pesan Einstein: “Don’t stop questioning” (Jangan pernah berhenti mengajukan pertanyaan).
Tidak adanya komunikasi dalam proses belajar mengajar diantara guru dan siswa begitu juga diantara orangtua dan anak, berakibat anak kurang berani jujur mengemukakan permasalahan yang dihadapi. Kejujuran di Indonesia sudah terbiasa diletakkan di bawah “pride” (harga diri), ketidaktahuan dan ketidak mengertiannya hanya disimpan di dalam hati karena takut kehilangan harga diri, takut dianggap bodoh.
Beri ruang pada anak untuk menghadapi kegagalan, pada prinsipnya kegagalan itu penting. Kita harus menyiapkan mental positif dan sikap mental pembelajar. Menurut Thomas Sugiarto: “Dengan sikap pembelajar, anak akan selalu mengasah kapak sebelum memotong kayu, sehingga meminimalkan potensi kegagalan yang tidak perlu”. Sepanjang anak mempunyai sikap pembelajar, anak tidak akan bertemu dengan yang namanya gagal, akan tetapi berpikir mendapat ilmu baru. Kegagalan membuat anak belajar dan menjadi lebih kuat dan tabah menghadapi kenyataan serta berani ambil resiko. Sehingga anak mampu mengubah kegagalan menjadi keberhasilan.
Inovasi baru biasanya muncul dari sebuah kesalahan atau kegagalan. Pada dasarnya setiap anak bisa menjadi inovator, namun prosentase para inovator sangatlah kecil. Seorang ilmuwan memperkirakan bahwa perbandingan antara inovator dan manusia biasa adalah 1 : 1.000.000.
DR. Thariq As-Suwaidan menyatakan “Inovasi adalah memandang sesuatu yang biasa dengan cara atau dari sudut pandang yang tidak biasa. Lalu pandangan itu dikembangkan hingga berubah menjadi ide, lalu menjadi desain, kemudian menjadi inovasi yang siap dipraktikkan” Upaya mencetak generasi pembelajar yang inovatif, paling penting dikembangkan adalah pemikiran anak.
Akan menjadi apa , Anda itu lima tahun lagi, akan ditentukan oleh apa yang Anda baca dan dengan siapA Anda bergaul. (Charles Jones).
Membiasakan anak suka mengggali informasi, atau istilah lainnya membangun masyarakat yang gemar membaca (reading Sosiety) dan gemar belajar (Learning Sosiety), amatlah sulit. Orangtua dan guru memegang peranan penting dalam proses ini. Sebagian besar orang-orang sukses, terinspirasi dan terobsesi biografi orang-orang terkenal yang pernah mereka baca atau mereka dengar dongengnya. Maka kewajiban orangtua dan guru serta sekolah untuk memfasilitasinya.
Ajari anak untuk bermimpi atau memiliki tujuan, karena impian memiliki kekuatan yang luar biasa. Inovasi baru muncul dari mimpi-mimpi besar orang-orang kreatif. Impian berbeda dengan khayalan. Keduanya memang sama-sama merupakan produk pikiran. Bedanya, impian adalah harapan yang disertai keyakinan bahwa kita dapat mewujudkannya, sedangkan khayalan adalah keinginan atau harapan yang kelewat mustahil dan kita tidak memiliki gambaran sama sekali bagaimana mencapainya.
Membina hubungan baik dengan anak maupun siswa secara lebih kental, agar dapat kesempatan untuk melihat setiap permasalahan yang dihadapi anak dengan lebih jelas, logis dan reflektif. Guru dan orangtua harus berani mengatakan tidak tahu jika memang tidak tahu. Dengan harapan, terjadi kejujuran dalam menggali ilmu pengetahuan dan informasi.
Sudah waktunya terjadi proses keterbukaan dalam pembelajaran diantara dua generasi, karena kita hadir untuk saling melengkapi, demi tercapainya tujuan pendidikan seperti yang diharapkan negeri tercinta ini.
Harapan hasil pendidikan ke depan, bukan menciptakan generasi yang bermental cari gampang, yang bekerja dengan kekuatan-kekuatan luar (alat-alat tehnologi) dan tidak sanggup menciptakan (tidak kreatif) bagi kehidupannya sendiri dan orang lain, melainkan menciptakan generasi pembelajar yang inovatif, mampu menjadi produsen mencipta tehnologi, bukan generasi konsumen tehnologi (pengguna tehnologi) yang terus menerus ditentukan oleh orang lain atau negara lain.

Reaksi:

2 komentar:

  1. Apakah mungkin Indonesia mampu melakukannya?

    BalasHapus