Posting Terbaru

Sabtu, 11 Juni 2011

Seputar Pelaksanaan Ujian Akhir Nasional


Nilai Ujian Nasional rendah. Benarkah anak tersebut bodoh? Bagimana dengan  mereka yang nilai Ujian Nasionalnya bagus? Apakah dia pandai? Jawabnya ada pada saat proses pembelajaran berlangsung. Sudah lebih dari dua puluh tahun saya mengamati perkembangan siswa di sekolah. Rata-rata NUN yang masuk ke sekolah kami termasuk tinggi, namanya juga sekolah negeri. Sekolah favorit di kecamatan Kertosono. Jumlah pendaftar biasanya tiga kali lipat dari jumlah siswa yang diterima.
Dengan berjalannya waktu, apa yang terjadi? Dari tahun ke tahun selalu ada kasus siswa masuk dengan nilai NUN (Nilai Ujian Nasional) SMP tinggi namun pada saat Proses Belajar Mengajar (KBM) ketahuan aslinya. Kalau ditanya, dengan entengnya mereka menjawab, “Biasa bu,  waktu ujian saya diapit siswa terpandai di sekolah kami. Dan tanpa berpikir, saya tinggal copy paste”. Jawab siswa tanpa perasaan bersalah dan tanpa beban. Bahkan tanpa tanggung jawab.
Alangkah bahagianya jika setiap siswa yang masuk ke sekolah dengan NUN SMP tertinggi, keluar dengan NUN SMK tertinggi pula. Seperti angkatan pertama,  Darmawan. Saya masih terus mengingatnya, karena waktu itu saya panitia penerimaan siswa baru. Saya terus memantau hasil belajar Darmawan selama sekolah. Dan Alhamdulillah, Darmawan lulus dari sekolah kami dengan NUN tertinggi pula. Namun ada berapa persen siswa seperti Darmawan?
Tahun-tahun berikutnya, siswa masuk dengan NUN SMP tertinggi tidak mampu berjuang mencapai NUN tertinggi pada saat ujian nasional SMK, mengapa demikian? Jawabnya seperti di atas. Hasil copy paste. Menyontek sudah menjadi budaya siswa.
Kondisi seperti ini sudah berlangsung lama, namun sampai saat ini tidak ada tindakan dari pemerintah. Atau mungkin karena belum ada yang meneliti? Atau mungkin sudah waktunya guru desa seperti saya turun tanah? Memangnya selama ini ada di mana? Jawabnya tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Benarkah masyarakat Indonesia sudah sakit? Warga sudah sakit? Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Daniel M Rosyid Penasehat Dewan Pendidikan Jatim (Surya, 10 Juni 2011).  Menyikapi perilaku masyarakat,  yang menganggap; “Menyontek sudah mengakar dan menjadi kebiasaan bahkan budaya di masyarakat. Jujur malah ajur”.
Benarkah sakitnya masyarakat berasal dari adanya Ujian Nasional? Sampai hari belum ada hasil penelitian tentang masalah ”Dampak Negatif Pelaksanaan Ujian Nasional sebagai Penentu Kelulusan Siswa”. Belum ada pakar yang berani meneliti. Mungkin karena takut dengan birokrasi. Pakar Pendidikan saja belum berani bicara apalagi guru desa seperti saya. Sampai hari ini hanya bisa “Sendika ndederek dawuh”. Bekerja sesuai amanat pimpinan. Tidak lebih dan tidak kurang.
Berbeda dengan di dalam kelas pada saat proses KBM, saya lebih suka menilai berdasarkan proses bukan berdasarkan hasil. Buktinya, apabila prosesnya baik maka hasilnya juga baik. Pada saat kelas X, saya adakan perjanjian. Siswa dengan nilai fisika 9, diharapkan mendapatkan nilai NUN minimal 9 atau 10 untuk mata pelajaran matematika. Karena di SMK fisika tidak termasuk mata pelajaran yang di UAN-kan. Dan Alhamdulillah, hampir 90% siswa mau berjuang mencapainya. Masalah teman-teman di sebelahnya ikut mendapatkan nilai 9 bahkan itu bukan urusan saya. Biasanya anak-anak yang mendapat nilai 9 maupun 10 bidang mata pelajaran matematika hasil copy paste, akan malu jika bertemu dengan saya. Memiliki beban moral. Berbeda dengan mereka yang memang hariannya pandai secara akademik.
Sebagai guru saya sangat paham, kalau setiap anak pasti memiliki kelebihan. Meskipun hanya satu pasti mereka punya. Tidak ada seorang anakpun yang dilahirkan tanpa kelebihan. Tidak bisa fisika tidak apa-apa,  yang penting mereka tahu potensi yang dimilikinya di bidang apa? Bisa olah raga, seni budaya, musik, agama, bahasa dan lain sebagainya. Bukan hanya siswa yang menguasai sains saja yang bisa sukses di masa depan.
Kembali pada masalah dampak negatif Ujian Nasional. Semoga di masa depan Pemerintah semakin arif dan bijaksana dalam merumuskan syarat kelulusan bagi siswa baik SD, SMP/MTsN mapun SMA/SMK/MA. Sehingga jujur selalu mujur, bukan jujur ajur lagi. Sesuai dengan hukum III Newton, “Aksi = - reaksi”. Siapa yang menanam akan menuai. Amin.


7 komentar:

  1. ujian nasional = momok...
    bagi mereka yang belum siap....
    bagi yang sudah siap,, gag akan ada masalah....
    kebanyakan siswa "copy - paste" adalah mereka belajar "untuk hari ini"...
    dan besok mereka pikirkan besok....
    sementara anak yg nilai akademik tinggi,, mereka terbiasa bersiap-siap...
    bahkan untuk ujian nasional di kelas 3 sudah mereka siapkan sejak kelas satu...
    banyak orang sekarang menilai ujian nasional kurang tepat untuk dijadikan penentu..
    tapi apakah mereka pernah memikirkan apa yg orang2 dulu pikirkan sehingga menjadikan ujian nasional sebagai penentu ???
    daripada merombak sesuatu yang sudah menjadi akar,, akan lebih baik jika mempersiapkan segalanya dulu...
    (daripada mengubah objek,, akan lebih baik merubah subjeknya) ...bener gag sih quwh nulisnya...hahaa

    BalasHapus
  2. Sayang sekali belum ada penelitian yang membahas dampak UAN baik dampak positif maupun negatifnya. Atau mungkin saya yang kurang ilmu. Namun sebagai guru saya melihat masih banyak kelemahannya daripada kelebihannya. Semua ini berdasarkan pengalaman.

    BalasHapus
  3. kemaren berkunjung ke salah satu blog teman, dia membahas type soal yg ada di ujian akhir sekarang lah yg menjadikan ujian akhir itu menjadi momok...

    dia mengususlkan type soal akademik dengan menggabungkannya dengan type soal karakter..... yang akan memberikan gambaran kemampuan koordinasi otk kanan dan otak kiri secara bersamaan.

    sehingga soal akademik tidka melulu mengandalkan kemampuans alah satu otak.

    dengan begini proses yg diharapkan akan didapat hasilnya. bukan hanya hasil.

    ini hanya salahs atu solusi dari seorang kawan bu.....

    BalasHapus
  4. Bu Puspita... kayaknya kebudayaan copy paste ini terbawa smpe gede yah? dan hasilnya mgkn masyarakat yg gak bisa inovatif... *beuh bahasa ku kayak yg bisa ajah*

    mohon maaf Bu...

    tapi dulu saya waktu ujian SMA sering ditimpukin kertas, yg tulisannya..
    "Li.. tolong isiin jawaban no. sekian sekian sekian... dst..."

    Bete?! Jelas! saya yg belajar, mereka yg dpt nilai...

    BalasHapus
  5. jadi malu.... :( :)

    wkwkwkw...
    "demi kebaikan orang tua bu" *hoho*

    BalasHapus
  6. Yach semoga bisa jujur lah.

    BalasHapus
  7. ujian itu momok baik itu buat kepala sekolah, siswa, guru bidang studi, dan orang tua...

    BalasHapus