Posting Terbaru

Selasa, 14 September 2010

Anak Berkelainan Perilaku / Tunalaras (1)

Pemberian sebutan anak berkelainan perilaku (tunalaras) didasarkan pada realita bahwa penderita kelainan perilaku mengalami problema intrapersonal dan/atau interpersonal secara ekstrim (Hallahan dan Kauffman, 1991) sehingga mereka mengalami kesulitan dalam menyelaraskan perilakunya dengan norma yang berlaku dalam masyarakat.
            Sesuai dengan amanat Undang-undang Pendidikan Nomor 20 Tahun 2003, “anak tunalaras berhak mendapatkan layanan pendidikan yang relevan dengan kebutuhannya”. Dengan harapan kelak anak tuna laras yang terdidik memiliki kemampuan bertindak  baik atas kemauan sendiri, ulet mencapai prestasi, berpikir dan bertindak secara rasional, mampu mengendalikan diri, serta memiliki harga diri dan kepercayaan diri yang baik.
            Mackie (1057) mengemukakan, bahwa anak yang dikategorikan kelainan penyesuaian perilaku sebagai bentuk kelaianan penyesuaian social adalah anak yang mempunyai tingkah laku tidak sesuai dengan adat kebiasaan yang berlaku di rumah, di sekolah dan di masyarakat lingkungannya.
            Anak berkelianan perilaku (Tunalaras) menurut pengamatan saya sebagai guru sebenarnya ada di sekolah, meskipun demikian seringkali karena kita sedikit belajar mengenai psikologi sosial dan kurangnya pengetahuan guru tentang kelainan perilaku ini akibatnya sering terjadi perdebatan dalam menangani proses kelangsungan pendidikan siswa yang pernah melakukan pelanggaran hukum di sekolah. Seperti contohnya mencuri.
            Seringkali keputusan yang diambil tidak bijaksana. Terutama di sekolah-sekolah favorit. Anak berperilaku menyimpang biasanya langsung dikeluarkan dari sekolah. Mereka terpaksa pindah sekolah. Jika hal ini terjadi biasanya bukan mengurangi perilaku negative siswa namun terjadi sebaliknya. Setelah pindah sekolah bukannya berubah lebih baik melainkan semakin parah. Atau dapat disebuat derajat kelainan perilakunya semakin meningkat.
Namun adapula yang beruntung, sekolah masih mau mendidik siswa berkelainan perilaku. Ada pendampingan khusus dari guru BP (Bimbingan Konseling), guru  dan Wali kelas dan hasilnya ada perubahan perilaku positif. Derajat kelainan perilakunya semakin menurun.
Saya melihat dan mengamati beberapa kejadian yang menimpa siswa saya. Pelanggaran hukum yang dilakukan sama namun proses penanganannya berbeda, hasilnya berbeda pula. Meskipun kami  belum mampu melakukan penelitian lebih lanjut.
Adi (bukan nama sebenarnya), dalam kesehariannya memiliki kebiasaan buruk, suka mengganggu dan banyak bicara yang tidak perlu. Suka mencari perhatian guru dengan cara berperilaku negatif. Saya mengamati kenakalan lebih kea rah kriminal. Kalau diajak bicara baik-baik pasti menjawab dengan jawaban negatif. Termasuk juga jika ditanya masalah tujuan hidupnya atau cita-citanya.
Setelah kami lakukan pendekatan, ternyata orang tuanya memilki perilaku negatif pula di masyarakat. Di rumah mendapat perlakuan kasar dari orangtuanya. Serta mendapat julukan negatif. Bahkan yang lebih parah lagi keluarganya termasuk kategori keluarga miskin. Apa yang terjadi, beberapa waktu yang lalu Adi ketahuan mencuri alat-alat bengkel.
Sebenarnya dia jujur,  Adi bercerita, melakukan pelanggaran hukum di masyarakat, suka mencuri ayam tetangga, mengajak teman-temanya mencuri buah di kebun tetangga, ngebut di jalan raya tanpa helm meskipun menggunakan sepeda motor pinjaman,  dll. Adi mengganggap perilakukan negatif yang dilakukannya wajar-wajar saja. Menyedihkan sekali.
Jika Adi tidak mendapat pendampingan yang baik, dikhawatirkan di belakang hari kelakuan negatifnya semakin meningkat. Menghadapi anak-anak berkelainan perilaku seperti Adi memerlukan ilmu tersendiri. Kami (guru-guru) sepakat tetap mempertahankan Adi di sekolah.
Semoga kami mampu mendidik Adi dengan baik. Harapan ke depan Adi mampu menjadi anak yang berkepribadian baik, sukses dan mandiri. Amin.

           

Reaksi:

7 komentar:

  1. tunalaras sama penderita overaktifitas sama kali yah?? hehe sok tau padahal baru pertama kali disini aku ngerti apa itu tunalaras

    BalasHapus
  2. Ternyata saya baru paham makna kata "laras"...
    Taunya cuman senjata laras panjang, Cindelaras dan Laras murid saya...
    Makasih penjelasannya Bu...
    Selamat ngajar lagi

    BalasHapus
  3. @Trimatra; sebagian besar anak tunalaras hiperaktif. Namun tunalaras tidak sama dengan hiperaktif atau overaktifitas.

    @marsudiyanto; ha ha ha ... pertama saya membacanya dan mempelajarinya sempat tersenyum juga, ternyata anak-anak berkelainan perilaku disebut tunalaras.

    BalasHapus
  4. anak2 seperti adi memang butuh pendampingan dan kasih sayang dari orang2 terdekatnya, bu pita. jangan sampai telanjur salah urus. selamat idul fitri, ya, bu, minal aidin walfaizin, mohon maaf lahir dan batin atas semua kesalahan dan kekhilafan saya selama ini.

    BalasHapus
  5. YA bu anak seperti adi itu butuh teman yang bisa jadi PENGARAH. jadi bukan cuma PENGARUH.

    BalasHapus
  6. @Sawali tuhusetya; benar Pak, di era global ini semakin banyak anak dibesarkan dalam keluarga berantakan, hidup sendiri serta haus kasih sayang. Semoga kita semua bisa menjadi orangtua kedua bagi siswa. Amin. sama-sama Pak. Matur nuwun.

    @双方向オクタは; benar Dwi, Adi butuh teman sebaik dirimu. Sukses dan bahagia selalu.

    BalasHapus
  7. huffftt thankz ea wat blogx

    BalasHapus