Posting Terbaru

Senin, 27 September 2010

Masyarakat Belajar (Learning Community)


Learning Community merupakan salah satu dari tujuh komponen utama dalam Pengajaran dan Pembelajaran Konstektual (Contextual Teaching and Leraning). Konsep Learning Community (Masyarakat Belajar) menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain.
Ketika seorang anak baru belajar mengukur tebal pelat baja dengan menggunakan jangka sorong, ia bertanya kepada temannya. Kemudian temannya yang sudah bisa menunjukkan cara menggunakan  jangka sorong tersebut. Maka kedua siswa tersebut telah membentuk masyarakat belajar.
Hasil belajar yang diperoleh dari sharing antar teman, antar kelompok, antar siswa yang terampil ke  siswa yang belum sudah terampil. Di dalam kelas, di laboratorium, di ruang bengkel dan juga orang-orang yang berada di luar sekolah, semua adalah anggota masyarakat belajar.
Di dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen. Yang pandai mengajari yang lemah, yang tahu memberi tahu yang belum tahu, yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat, yang mempunyai gagasan segera memberi usul, dan seterusnya.
Masyarakat belajar bisa terjadi apabila terjadi komunikasi dua arah. Seseorang yang terlibat dalam kegiatan masyarakat belajar memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga sekaligus juga meminta informasi yang diperlukan dari teman belajarnya.
Kegiatan saling belajar ini bisa terjadi apabila ada pihak yang dominan dalam berkomunikasi. Tidak ada pihak yang segan bertanya, tidak ada pihak yang paling tahu, semua pihak harus saling berbagi dan mau mendengarkan. Semua pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Semua anak adalah special.
Pada saat proses pembagian kelompok selalu timbul permasalahan. Siswa yang merasa pandai pada dasarnya ingin berkumpul dengan teman yang mereka anggap pandai. Mengapa hal ini terjadi, karena sebagian besar, siswa belajar hanya untuk memperoleh nilai semata. Oleh karena itu guru harus bersikap bijaksana, menjelaskan tujuan belajar yang sebenarnya.
Sejak saya sekolah pada dasarnya kelompok elit kelas sudah ada, mereka membangun kelompok tersendiri. Sampai sekarang masih banyak terjadi, akibatnya siswa yang pandai semakin pandai dan yang merasa kurang pandai semakin merasa tersisih. Dengan membangun masyarakat belajar di dalam kelas diharapkan penguasaan ilmu / materi pelajaran menjadi merata. Demikian juga ketrampilan meneliti (inkuiri) menjadi merata.
Beberapa hari yang lalu, Adi kelas XI tiba-tiba datang ke ruang saya. Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia kemukakan. Sebentar kemudian Eko menyusul. Tiba-tiba mereka bertanya, “Bu, ada waktu buat kami?” Tanya mereka berdua.
“Ada”, jawab saya.
“Ijinkan kami bertanya. Kami ingin mengajukan usul. Masalah pembagian kelompok Fisika.”
“Ya, silahkan. Ada ide?”
“Benar bu, kami ingin pada saat pembagian kelompok fiska di dalam kelas. Tetap bergabung dengan teman-teman kelompok belajar kami. Boleh ya Bu?”
Saya hanya tersenyum mendengar keluhan mereka. Kami terlibat diskusi agak lama. Alhamdulillah, akhirnya mereka memahami tujuan belajar yang sebenarnya. Mereka telihat tersenyum puas. Beban perasaan yang selama ini ada telah terurai, merasa lega.
Ketika mereka berdua keluar bertemu dengan Ina kelas XII. Tiba-tiba Ina menyapa, “Pasti masalah pembagian kelompok. Saya juga sering mengalaminya. Ternyata bukan hanya saya yang mengalami masalah seperti itu. Perasaan seperti itu muncul secara alami, dari dalam diri setiap individu. Santai dik … santai. Semangat. Semangat!”
Diskusi seperti ini sering terjadi di ruang perpustakaan sekolah. Pada saat menghadapi masalah mereka tidak takut  mengemukakan permasalahannya dan berjuang mencari solusinya. Kelompok elit kelas sudah tidak ada lagi, di kelas terbentuk masyarakat belajar. Pembelajaran berbasis CTL mampu  membangun karakter siswa.
Harapan kedepan,  CTL tidak  hanya membangun masyarakat belajar (Learning Community) saja melainkan mampu membangun kesadaran belajar dan  kesadaran membaca. Serta mampu melahirkan siswa-siswa yang berkarakter.


Reaksi:

17 komentar:

  1. Sebagai masyarakat, sayapun selalu dan selalu belajar terus...
    Salam untuk Bu Guru & murid2nya...

    BalasHapus
  2. @marsudiyanto; saya hampir setiap hari belajar pada Panjenengan. Terima kasih motivasinya.

    BalasHapus
  3. salut buat ibu guru.. teruslah berkreasi bu.. lam kenal..

    BalasHapus
  4. trima kasih bu informasinya.... oh ya bu bagaimana dengan kontes ibu....

    BalasHapus
  5. Wah, salut Bu,....semoga berhasil dan menjadi inspirasi teman-teman guru yang lain. Salam persahabatan dari kota batik pekalongan.

    BalasHapus
  6. @bloganaksmk; doakan ibu berhasil. Amin.

    BalasHapus
  7. @teguhsasmitosdp1; Baru belajar Pak, belum mampu berkarya sebaik Panjenengan. Terima kasih motivasi dan persahabannya.

    Salam kembali dari pinggir sungai Brantas.

    BalasHapus
  8. saratnya harus mau berbagi bu... kata orang bijak, masa depan tidak ditetukan oleh nilai saja, tetapi oleh kepemimpinan dan jejaring...

    BalasHapus
  9. bu, ni blog saya,,
    tolong saya bwt blog yg lebih baik,,

    BalasHapus
  10. sukses selalu dengan kegiatannya bu .. kebetulan di forum borneo guru2 juga lagi membuat sistem pembelajaran online ... untuk semua siswa ..

    Salam dari Kalimantan Tengah.

    BalasHapus
  11. saling memberikan pembelajaran dengan tulus ikhlas, menjadikan bangsa kita maju ya bu...

    trimakasih artikelnya bu guru..
    salam kenal.. :)

    BalasHapus
  12. @function;sering-seringlah datang ke perpustakaan. Kita bisa belajar memperbaiki blog di sana. Ibu tunggu.

    @MULTIMEDIA INTERNET; tidak apa-apa. Masih banyak yang perlu diperbaiki.

    @bayuputra; Hebat Kalimantan sudah mengadkan pembelajaran online.

    @advertiyha; Benar Mbak, kita hanya bisa berharap bisa saling berbagi untuk memajukan bangsa dan negeri tercinya melalui pendidikan.

    Terima kasih kunjungannya.

    BalasHapus
  13. Pendekatan tutor sebaya musti ditumbuhkembangkan berkenaan dg learning community ini, Bu.

    BalasHapus
  14. sukses dgn beljar kelompoknya bu :)

    BalasHapus
  15. @M Mursyid PW; benar Pak, kami selalu membantu siswa bekerja sama, pendekatan tutor sebaya mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa yang sudah bisa dan menumbuhkan keberanian siswa yang belum bisa untuk bertanya. Anak-anak secara alamiah lebih suka belajar dan bekerja sama dengan teman-temannya dibandingkan belajar dan bekerja sama dengan guru.

    @dina; terima kasih motivasinya.

    BalasHapus