Posting Terbaru

Sabtu, 18 Juni 2011

Melatih Anak Laki-laki Mengelola Emosinya

Anak laki-laki yang dididik dengan baik dan benar sejak belia, akan tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan dan dapat diandalkan oleh keluarganya bahkan bangsa dan negaranya. Orangtua perlu membekali anak, terutama anak laki-laki, dengan melatih anak laki-laki mengelola emosinya. Pola pengasuhan memengaruhi kepribadian anak ketika tumbuh dewasa.
Di sekolah kami perbandingan jumlah siswa laki-laki dan perempuan lebih kurang 70:30. Bahkan hampir selama 20 tahun saya lebih banyak mengajar di Jurusan Tehnik dibandingkan di Jurusan Busana Batik maupun Jurusan Restoran. Sehingga selama itu pula saya banyak belajar tentang tumbuh kembang anak laki-laki dari perilaku siswa di sekolah.

Berdasarkan pengalaman, kelas X (kelas I SMA/SMK) merupakan masa rawan anak laki-laki. Sebagian besar baru mengalami perasaan “Jatuh Cinta” di saat mereka duduk di kelas X, meskipun ada beberapa yang sudah mengalami perasaan ini di kelas sebelumnya maupun sesudahnya. Oleh karena itu saya sudah sejak sebelas tahun yang lalu memilih mengajar di kelas X dibandingkan di kelas XII.
Anak SMA, sudah mulai masuk pada fase “pembentukan identitas”.Mereka pada umumnya sudah menunjukkan sikap dewasa. Sudah lebih terbuka menghadapi masalah. Mau berbagi cerita dengan saya, guru fisikanya. Mereka sering meminta pendapat atau dukungan atas keputusan yang diambilnya. Terutama anak-anak yang berada jauh dari ibunya atau bahkan sudah kehilangan ibunya sejak kecil.
Saya teringat Subhan siswa terbaik di jurusan Listrik tahun 2007. Teringat wajahnya yang tiba-tiba berubah merah seperti kepiting rebus, pada saat teman-temannya menyebut sebuah nama. Bahkan dia seperti kehilangan energi untuk berpikir, padahal soal yang dihadapinya di papan tulis waktu itu sangatlah mudah bagi dia. Teman-temannya terlihat bahagia melihat perubahan perilaku Subhan di depan kelas.
“Lihat bu, muka dia merah. Subhan sedang jatuh cinta!”, kata Septian puas.
“Iya bu. Benar Subhan sedang naksir cewek. Mukanya bu ... seperti kepiting rebus!”, sahut Prio dari belakang.
“Ternyata Subhan juga manusia ...!!! Asyik sekali ...”, sahut yang lainnya.
Setelah anak-anak puas mengejek, dan suasana kelas sudah kondusif, saya mulai bicara. Sebelumnya tentu saja saya persilahkan Subhan kembali ke tempat duduknya. Sebelum dia semakin kehilangan kendali emosinya. Sebelum jatuh harga dirinya. Mungkin kalau di biarkan Subhan bisa menangis waktu itu. Atau bahkan bisa kencing berdiri karena nervous.
Subhan seorang anak yang sangat pendiam. Dia cerdas, sopan dan cenderung menutup diri. Semua guru sangat menyayanginya. Menimbulkan iri hati teman-temannya. Oleh karena itu pada saat Subhan jatuh cinta bisa menimbulkan sensasi tersendiri bagi teman-temannya. Mukanya yang tiba-tiba memerah serta otaknya tiba-tiba buntu setiap kali dipanggil sebuah nama, suatu fenomena alam yang dianggap langka bagi mereka, teman-teman sekelasnya yang semuanya berjenis kelamin laki-laki.
Penelitian menunjukkan orangtua cenderung lebih memedulikan bagaimana perasaan anak perempuan daripada anak laki-lakinya. Ketika anak perempuan merasa sedih, orangtua akan bersikap lebih lembut. Sedangkan anak laki-laki dipaksakan untuk selalu kuat meski mereka sedang merasa sedih. Anak laki-laki terbiasa tak boleh sedih. Pengasuhan seperti ini justru membuat anak laki-laki terlatih menyembunyikan perasaannya. Mereka merasa malu jika menunjukkan kesedihan. Pada akhirnya anak laki-laki tak bisa berkomunikasi dengan baik.
Tugas orangtua dan guru di sekolah adalah mengajarkan anak laki-laki bahwa perasaan kecewa, sedih, marah, takut adalah wajar. Ajarkan anak laki-laki untuk mengenali dan menerima perasaan tersebut. Anak laki-laki perlu menyadari perasaan tersebut adalah bagian dalam dirinya, yang mungkin saja tak langsung bisa disingkirkannya. Dengan memahami perasaan, anak laki-laki akan mulai menerima dirinya, dan mengenali masalahnya. Dengan begitu ia akan terbantukan untuk mencari solusi dari masalahnya, setelah ia bisa mengatasi emosinya Orangtua dan guru harus bersikap bijaksana dalam menemani tumbuh kembang anak-anak. Supaya mereka mampu menjadi pribadi yang tangguh serta berkarakter.

Reaksi:

5 komentar:

  1. , setiap hal memank harus seimbang takarannyaa....
    like this mom... ^.^

    BalasHapus
  2. Memang mendidik anak baik laki2 dan perempuan itu ada tantangannya masing2 yah Bu... :-D

    Nice post, Bu... :-)

    BalasHapus
  3. @Corat_COret Joefin; harus jeli juga. Terima kasih motivasinya.

    @Lylianan Thia; benar mBak Thia, anak-anak membuat kita harus terus menerus belajar. Karena kedua anak saya berbeda jenis kelaminnya cara memperlakukannya juga berbeda. Meskipun kadang juga memerlukan perlakuan yang sama.

    BalasHapus
  4. Waah saya belum pintar dalam hal ini. Namun yang terpenting menurut saya adalah tanggung jawab orang tua dan guru yang semakin lama menurun....

    Salam perkenalan....

    BalasHapus
  5. mengajar anak memang memerlukan kecerdikan. bagi kita orang awam kadang-kadang merasa kesulitan anak yang hiperaktif dan punya emosi yang meluap-luap. children game

    BalasHapus