Posting Terbaru

Selasa, 21 Juni 2011

Bahagia Itu Menular. Benarkah?

Bukan hanya penyakit yang bisa menular. Rasa bahagia atau gembira pun bisa menular. Anda yang sedang diliputi kebahagiaan bisa menularkannya kepada keluarga, teman maupun tetangga. Benarkah?.
            Teringat kejadian di kelas X  Busana Butik 1 beberapa tahun yang lalu. Seperti biasa saya mengajar IPA pada jam terakhir jam 7 – 8. Biasanya suasana kelas sangat panas, namun hari itu sangat berbeda. Segar dan nyaman.
            “Hari ini ada yang berbeda. Siapa yang sedang bahagia hingga mampu membuat suasana kelas terasa segar dan nyaman?”, tanya saya pada anak-anak.
            “Tidak ada bu, biasa saja”, jawab Santi.

            “Ada bu ... ada. Hari ini Lina sedang bahagia. Pagi tadi diantar ke sekolah pacarnya!”, kata Mei kembaran Lina.
            Saya lihat Lina tersipu malu.  Dan ternyata benar, saya melihat cahaya terpancar wajahnya yang cantik. Mei dan Lina anak kembar. Mereka berdua anak-anak yang manis dan cerdas. Meskipun sedikit agak berbeda, Lina anaknya pendiam. Sedangkan Mei anaknya cerdas dan selalu ceria.
            “Ah,  masa iya?’, tanya saya pada Mei.
            “Benar bu, hari ini Lina sangat bahagia”, sambung Tina rekan sebangku Lina.
            Satu siswa bahagia bisa mempengaruhi suasana kelas. Perasaan bahagia menyebar tanpa kendali. Membuat perasaan bahagia di hati.   Apalagi jika semua anggota kelas semua bahagia. Tentu lebih menyenangkan lagi.
            Saya juga sering mengalami pancaran kebahagiaan yang disebarkan oleh teman-teman dan tetangga di sekitar rumah. Begitu juga sebaliknya. Kami sering mendiskusikan hal ini  bersama ibu-ibu di pertemuan PKK Kelurahan. Maupun teman-teman guru di sekolah. Bahagia merupakan salah  satu kebutuhan dasar manusia. Supaya terhindar dari stres dan stroke.
Menurut Prof. Nicholas Christakis dari Harvard amedical Scholl dan Prof. James Fowler dari auniversity of California San Diego, menyatakan: ”Apabila Anda bahagia, tetangga yang berada di samping rumah anda akan terdongkrak kebahagiaannya hingga 34%. Virus bahagia ini juga mampu diterima teman yang tinggal sekitar 3 km dari kediaman Anda sebesar 25 %” (Kesehatan Mental, Pebruari 2011).
Berusaha bahagia sebelum masuk rumah maupun masuk kelas. Pentingkah? Menurut pendapat saya sangalah penting. Saya sering membuat kesepakatan bersama suami dan anak-anak. Berusaha membuat hati bahagia sebelum masuk rumah. Tidak mudah memang. Namun apa salahnya kita saling berusaha menyebarakan kebahagiaan pada saat bertemu. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan. Masing-masing memiliki cara yang unik. Cara Suami dan anak-anak tentu saja berbeda dengan cara saya. Namun yang terpenting hasilnya. Tidak masalah prosesnya berbeda yang terpenting kita memiliki niatan yang sama untuk berbagi kebahagiaan ketika tiba di rumah. Apabila salah satu pulang dalam keadaan suntuk, stres atau menyimpan prasangka negatif. Bisa kacau suasana rumah. Satu suntuk yang lain bahagia. Insyallah,  anggota keluarga yang suntuk menjadi terasa nyaman dan damai akibat pengaruh kebahagiaan dari anggota keluarga yang lain.
Begitu juga pada saat masuk kelas. Saya selalu berusaha berpikir positif, supaya perasaan nyaman dan bahagia ketika melakukan proses pembelajaran. Menata hati dan emosi, karena saya mampu memancarkan kebahagiaan, terutama pada saat jam-jam terakhir. Pada saat anak-anak mulai mengalami kejenuhan belajar, karena lelah dan lapar. Benarkah? Buktinya apa?. Apabila saya masuk kelas dalam keadaan lelah dan suntuk, suasana kelas menjadi semakin kacau dan membosankan. Waktu dua jam pelajaran serasa sehari. Namun apabila saya masuk ke dalam kelas dengan penuh semangat, bahagia dan nyaman. Waktu dua jam pelajaran serasa singkat. Kalau tidak percaya tanya saja pada siswa saya. Ha ha ha ... bercanda!
Bagaimana pengalaman Anda?



Reaksi:

13 komentar:

  1. benar bu guru...

    kalau kita memulai pelajaran dengan perasaan gembira, semua terasa singkat.

    BalasHapus
  2. @tamayp; kadang anak-anak berucap "Mengapa waktu cepat berlalu?"
    Kadang pada saat mood agak turun, saya tatap mata anak-anak satu persatu terlebih dahulu. Melihat semangat dan harapan mereka Alhamdulillah tumbuh semangat dan bahagia.

    Terima kasih kunjungannya.

    BalasHapus
  3. semoga kebahagiaan selalu menular ya jadi damai deh

    BalasHapus
  4. @Lidya; semoga damai di hati kita semua. Amin.

    BalasHapus
  5. Aku happy2 aja Bu... Tapi sangat rela ditulari kebahagiaan oleh orang lain.. Pasti senengnya jd berlipat2 yah... Hihihi..

    Kebahagiaan bisa menyebar smpe radius 3 km? Subhanallah..

    BalasHapus
  6. Menyebar hingga radius 3 km berdasarkan penelitian. Namun menurut pendapat saya bisa lebih. Masalahnya jika kita kebetulan memiliki frekuensi bisa lebih jauh lagi sebarannya berdasarkan pengalaman saya. Sayang saya belum melakukan penelitian.

    BalasHapus
  7. Maksud saya. apabila kita memiliki frekuensi yang sama dengan teman atau saudara kita radiusnya bisa mencapai puluhan kilometer.

    BalasHapus
  8. , yah...bisa dipake buat telepati.....
    saya sudah pelajari ttg frekuensi dan mengubah frekuensi diri sendiri utk dsamakan dg frekuensi orang lain...
    sama sperti cara kerja radio penerima...

    BalasHapus
  9. Ass
    benar mba kebahagiaan bisa menular
    wah kalau.hingga radius 3 km saya belum pengalaman

    BalasHapus
  10. Hm..gak tau ya gak begitu ngerasa efek ke pribadi pas orang lain bahagia, untuk suasana rame2 iya mungkin hehe. Met kenal, mampir pertama kali ni

    BalasHapus
  11. Hmm...memang sebaiknya kita menyebarkan kebahagiaan, agar orang sekitar kita juga ikut terpengaruh bahagia....dan membuat kondisi lingkungan menyenangkan.

    BalasHapus
  12. sudah saya praktekkan bu, lebih dari berpuluh-puluh km kalau kita menyebarkannya lewat internet seperti anda, apa lagi lewat facebook

    BalasHapus
  13. Baru tahu klo bahagia seperti "virus" yg bisa di tularkan, Good Jobs Bu!

    BalasHapus