Posting Terbaru

Rabu, 15 Juni 2011

Beri Anak Dekapan Anda

Sore itu seperti biasa saya menyiram tanaman di halaman depan rumah. Setelah seharian penat bekerja. Weleh-weleh ... kerja apa memangnya, pegawai Bank?. Mungkin karena usia semakin tua, mengajar sehari enam jam pelajaran saja pulang sudah terasa lelah, padahal waktu muda biasa mengajar dua belas jam sehari. Pagi di sekolah negeri sore di sekolah swasta.
Tiba-tiba datang bu Reni, tetangga sebelah rumah yang kebetulan bekerja di salah satu Bank swasta terkenal di negeri ini. Kelihatannya beliau baru pulang kerja, sambil menggendong Adit putranya yang masih berumur dua tahun. Akhir-akhir ini Adit sering rewel, sejak mBok Nah pengasuhnya pulang kampung.
“Mengapa Adit jadi sering rewel? Padahal biasanya dia tidak pernah rewel. Selalu manis bermain bersama mBok Nah, jarang menangis dan selalu ceria?”, tanya bu Reni pada saya.
Saya tersenyum mendengar pertanyaan bu Reni. Teringat masa kecil kedua anak saya, Dita dan Kresna. Sejak kecil mereka tidak pernah rewel, apalagi jika ada saya, ibunya. Kalau tidak percaya tanya saja pada tanaman di halaman rumah. He he he ... memangnya tanaman bisa bicara? (Kapan-kapan kita bahas tersendiri).

Bu Reni sehari-hari sibuk bekerja. Beliau jarang sekali terlihat menggendong Adit. Begitu juga suaminya. Sejak di lahirkan Adit lebih banyak bersama mBok Nah pengasuhnya. Adit berangkat tidur bersama mBok Nah, bangun tidur langsung dirawat dan digendong mBok Nah. Mandi, makan, dan bermain bersama mBok Nah. Bahkan ketika berlibur akhir pekanpun mBok Nah selalu diajak. Beda dengan kedua anak saya di waktu kecil, apabila saya sudah pulang semua pengasuhnya pensiun. Tak terkecuali Eyangnya. Sudah tidak laku. Mereka lebih suka makan, tidur-tiduran atau bermain bersama saya dan bapaknya.
Adit juga lebih dekat dengan keluarga kami, apabila mBok nah repot biasanya Adit bersama kami di rumah. Lebih nyaman digendong kami sekeluarga bergantian. Apalagi kedua anak saya sudah besar sehingga Adit merupakan hiburan tersendiri bagi saya dan suami. Dia anak yang manis dan tidak pernah rewel. Apalagi kalau saya mulai mendongeng, bisa tertidur pulas dipangkuan saya.
Kembali pada bu Reni, mamanya Adit. Beliau sepertinya lupa, pada kebutuhan dasar anak yaitu: kebutuhan untuk disentuh bahkan didekap. Wajar saja jika Adit menjadi rewel sejak di tinggal mBok Nah, kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi. Mamanya Adit tidak terbiasa menggendong dan mendekap Adit. Mama dan papanya sibuk bekerja. Di rumahpun masih terlihat sibuk mengerjakan pekerjaan kantor. Sehingga pada saat sentuhan dan dekapan Mbok Nah hilang dari kehidupannya dia menjadi rewel, sulit makan dan lain sebagainya.
“Seharusnya kepulangan Mbok Nah menjadi karunia tersendiri bagi Panjenengan. Supaya lebih dekat dengan Adit. Untuk sementara, pagi dia bisa bersama Eyang dan pengasuh barunya. Sepulang bekerja upayakan Adit bersama Panjenengan sekalian, jauhkan dari pengasuhnya”, jawab saya bukan bermaksud menggurui.
“Akan saya coba. Dia merasa nyaman jika saya dekap sambil saya bacakan dongeng. Belajar pada guru PAUD. Anak-anak suka duduk dipangkuan guru-gurunya sambil mendengarkan salah satu gurunya bercerita. Terima kasih.”, kata bu Reni senang.
“Sama-sama. Semoga berhasil.”, jawab saya sambil tersenyum.
“Amin. Maaf bu saya pulang dulu.”, kata bu Reni sambil mengulurkan tangan.
“Monggo bu, selamat berjuang”, jawab saya bersemangat sambil menjabat tangan
Bu Reni.
“Ha ha ha ... berjuang menjadi ibu yang baik”, kata bu Reni bahagia.
Dalam peristiwa sehari-hari, efek sentuhan itu dengan mudah kita saksikan. Contohnya, ketika bayi atau anak-anak merasa takut menghadapi situasi baru, lalu menangis. Tangisan itu segera sirna begitu ibu atau ayahnya menyediakan lengan dan dada mereka untuk anak menaruh kepala dan menyembunyikan wajahnya. Pada bayi yang gelisah, kadang hanya dengan mengeluskan jari pada dahi atau lengannya saja, sudah membuat anak-anak tenang kembali.
Berbagai riset telah membuktikan bahwa sentuhan fisik, baik berupa dekapan, genggaman tangan, elusan di punggung, dan lain-lain dapat memberikan rasa tenang dan mampu membebaskan dari stres.
Anak-anak yang mendapatkan cukup dekapan dari orangtua memiliki rasa aman lebih kuat dibandingkan yang kurang mendapat dekapan. Anak-anak yang mendapat sentuhan dan dekapan yang cukup di masa kecil, lebih mampu dan kuat menghadapi peristiwa-peristiwa hidup di masa remaja maupun dewasa.
Bagaimana pengalaman Anda?

Reaksi:

9 komentar:

  1. Saya yang pulang seminggu sekali juga merasakan bahwa anak saya yang kecil2 pinginya seperti itu. Disayang didekap dan "dimanja". Pada intinya siapa sih yang nggak seneng disayang dan diperhatikan.

    BalasHapus
  2. saya dulu memang sering mendapat dekapan...
    terutama karena saya anak bungsu..
    tapi setelah orang tua saya berpisah, sejak saya kls 2 SD, saya juga gag rewel tu bu...
    Tapi saya juga dapat dekapan...
    Dekapan dari kesendirian dan kesepian..
    hahaa

    BalasHapus
  3. @Big Sugeng; sentuhan memang bener-benar diperlukan oleh anak-anak supaya potensi mereka bisa tumbuh optimal. Sentuhan juga sangat diperlukan bagi bapak-bapak. kapan-kapan saya tulis dalam artikel tersendiri.
    @joefin; meskipun keluargamu bermasalah, prestasimu selalu baik. Bahkan bisa menjadi yang terbaik. Luar biasa.

    BalasHapus
  4. mohon do'anya bu..
    supaya saya bisa menyatukan tali kekeluargaan di keluarga saya yang telah tercerai-berai...
    keluarga ibu, keluarga ayah, dan keluarga kakak saya...
    semoga masih ada cukup waktu saya untuk mewujudkannya.... amien

    BalasHapus
  5. jadi ingat sewaktu masih kecil, sempat mendekap dan membelai rambut ayahku. heheh

    Kini ayahku dua tahun lagi mau pensiun...
    Subahanallah...

    BalasHapus
  6. @joefin; Semoga perjuanganmu segera membuahkan hasil Sesuai dengan keinganmu. Amin.

    BalasHapus
  7. @Pak Deni; terima kasih masih ingat saya.

    BalasHapus
  8. Mungkin Mbok Nah sdh dianggap sepertinya ibunya...hehe

    BalasHapus
  9. itu betul, biasanya rasa capek akan hilag begitu si anak berlari tuk mengejar dan mendekap kita.

    BalasHapus