Posting Terbaru

Minggu, 05 Juni 2011

Keluarga Yang Utuh Membuat Anak Bahagia


Keluarga yang utuh, terdiri dari ayah dan ibu, ternyata menjadi aspek yang paling berpengaruh pada perkembangan emosional anak. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang utuh dan secara teratur melewatkan makan malam bersama merasa lebih bahagia dengan hidupnya. Benarkah?
Saya coba meneliti pada beberapa siswa yang mengalami masalah di sekolah. Salah satunya Madya. Seorang yang miliki fisik dan penampilan prima. Namun sayang sekali dia selalu membuat masalah di sekolah. Ada saja masalah yang dibuatnya di sekolah; terlambat masuk sekolah, terlambat masuk kelas, bolos sekolah, merokok di sekolah, malas dan selalu bersikap apatis terhadap semua mata pelajaran.

Seharusnya Madya banyak bersyukur. Badannya bagus dan tegap, proporsional. Memakai baju apa saja selalu pantas dia pakai selalu terkesan elegan. Pada dasarnya dia memiliki potensi dibidang seni. Meskipun dia tidak menguasai matematika, fisika dan produktif. Andai Madya mau sedikit peduli, saya yakin dia bisa. Namun sayang, dia lebih suka bersikap masa bodoh.
Pada awalnya, saya sempat kecewa dengan sikapnya. Namun sejak saya mengetahui permasalahan keluarganya. Saya coba dekati dan terus menerus mengingatkannya untuk memperbanyak bersyukur. Meskipun saya tahu itu sulit baginya. Dia tidak pernah mendapat pendidikan agama di rumahnya. Pendidikan agama hanya diperoleh dari sekolah. Menyedihkan sekali.
“Selamat pagi bu”, tiba-tiba Madya menyapa saya di pagi yang cerah di depan sekolah.
“Pagi juga”, jawab saya sambil mengernyitkan dahi merasa heran Madya mau menyapa dan terlihat bahagia. Tidak biasanya Madya terlihat bahagia dan mau menyapa guru maupun teman seperti pagi ini.
Hampir setiap hari, selalu terlihat mendung di wajahnya. Mukanya lebih sering terlihat murung meskipun udara sangat cerah dan matahari bersinar terang. Wajah gantengnya bagai gunung tertutup kabut hitam pekat yang enggan berpindah tempat. Tiada senyum, tiada canda maupun tawa. Melihatnya tersenyum, bagai mendapat durian runtuh rasanya. Senang dan bahagia sekali.
Jam ke-5 saya ada KBM di kelasnya. Setelah saya buka, tiba-tiba Madya menyodorkan beberapa tugas yang telah mampu di selesaikannya meskipun pada dasarnya sebagian besar hanya copy paste pekerjaan teman, namun niatnya untuk menyelesaikan tugas benar-benar saya hargai.
“Terima kasih. Ini tugas-tugas wajib saya. Alhamdulillah hampir semuanya saya selesaikan”, kata Madya sambil tersenyum.
“Terima kasih kembali, sudah mau berjuang”, jawab saya sambil menerima dan mengoreksi tugas yang sudah dikerjakannya.
“Butuh perjuangan yang sangat berat”, katanya seolah pada dirinya sendiri.
“Sudah lega?”
“Alhamdulillah sedikit lega”
“Mengapa hanya sedikit?”
“Ya, baru berkurang sedikit”
“Pelajaran yang lain bagaimana?”
“Alhamdulillah sudah selesai semua”
“Wow ... baguslah kalau seperti itu”
“Mengapa wow???”
“Ha ha ha .... senang saja Dya!. Senang melihatmu tersenyum, biasanya ibu terasa sesak nafas setiap kali memandang wajahmu”
‘Sesak nafas ...? Bisa saja”
“Buktinya bisa ...”
“Saya akan berjuang supaya bisa berubah. Supaya ibu tidak sesak nafas lagi. Mohon doanya”, kata Madya memohon.
“Bersemangat!. Buktikan merahmu!”
“Memangnya iklan rokok?!. Ha ha ha ... bersemangat!”
Kedua orang tua Madya bercerai dia ikut neneknya. Oleh karena itu dia sering melamun, apatis dan selalu berperilaku negatif. Semua itu akibat tekanan perasaan yang dirasakannya. Sebenarnya bukan hanya Madya. Di sekolah terdapat Madya-Madya yang lain. Mereka butuh teman berbagi beban perasaan. Butuh dukungan dan motivasi. Mereka juga berhak meraih sukses di masa depan.
Berbeda dengan teman-temannya yang memiliki keluarga utuh. Meskipun tingkat ekonomi mereka termasuk kategori miskin namun semangat dan senyum mereka terlihat berbeda. Mereka memiliki orangtua yang mampu memberi penguatan. Sedangkan anak-anak yang berasal dari keluarga berantakan selalu mengalami kebimbangan dan ketidak stabilan emosi. Akibatnya mereka lebih banyak berbuat keburukan.
Oleh karena itu, kami Wali kelas, Guru mata pelajaran, Bimbingan Konseling serta Kepala Sekolah berusaha bekerja sama, mengembangkan potensi dan memberi motivasi supaya hidup mereka sedikit lebih bahagia. Sehingga, mampu meraih sukses di masa depan.

Reaksi:

10 komentar:

  1. hmm ... di dunia maya ini, saya menemukan guru2 yang penuh dedikasi seperti mba Puspita dan pak Mars, tetapi kenapa di dunia nyata ini, sulit hanya untuk menemukan 1 saja ya mba?

    Kebanyakan di kota besar, *mungkin tidak semua, hanya saja saya yang belum berjumpa*, guru2nya sangat sibuk dengan urusan sendiri, tidak terlibat secara personal dengan anak didiknya.
    Jikalau kebanyakan guru seperti mba dan pak Mars, saya yakin anak bangsa ini akan merasa punya rumah kedua yaitu sekolah; karena seringnya rumah yang bahkan ada ibu-bapaknya justru tidak memberi ketentraman hati :(

    salam buat Madya, agar dia terus bersemangat, tak usah pedulikan masalah orang tua, karena dia punya masalah sendiri yang tak kalah besarnya yaitu tentang masa depannya yang hanya dia yang bisa memperjuangkannya dengan keyakinan teguh, agar semesta mendukung langkahnya dalam mewujudkan cita2nya :)

    BalasHapus
  2. Kasian yah Bu... semoga anak2 kami terhindar dari masalah demikian...

    ternyata benar adanya, saat saya dinasihati seorang bijak, bahwa Ibu itu spt air, dan bapak itu spt api... anak tidak bisa "matang" tanpa keduanya air dan api yang bersatu...

    BalasHapus
  3. memang tidak mudah menjalani seperti itu, tetapi seringkali itulah kenyataan yang harus dihadapi, i have more tragical stoty than madya, but life must go on...

    BalasHapus
  4. betul bu.........
    .
    .
    *ingatdirisendiri

    BalasHapus
  5. Kok kayak iklan roko Bukatikan Merahmu..? heheh

    BalasHapus
  6. @niQue; salamnya sudah saya sampaikan. Dia terlihat sangat bahagia. Merasa hidupnya ternyata ada gunanya dan ada juga orang yang bersimpati pada perjuangannya. Saya harap Madya bisa diterima bekerja di PLN seperti halnya Ayong siswa lulusan tahun 2010 yang saat ini sudah menjalani diklat PLN di Bogor. Dia juga mengalami masalah yang hampir sama dengan Madya pada saat belajar di SMK. Amin.
    @ Lyliana Thia; saya baru mengenal istilah api dan air. Terima kasih ilmunya.
    @Sriyono Semarang; benar mas. Terima kasih spiritnya.
    @komuter; Selamat Panjenengan sudah sukses sekarang.
    @Kamal Hayat; ha ha ha ... namun kali ini bukan iklan rokok mas. Iklan jamu! he he he ...

    BalasHapus
  7. Jika keluarganya harmonis, niscaya penghuninya akan bahagia :)

    BalasHapus
  8. salam takzim..
    Semoga Gurur-Guru yang berjiwa besar selalu menghiasi dunia pendidikan bangsa ini..

    BalasHapus
  9. lalu bagaimana pendapat ibu tentang saya ????
    orang tua saya berpisah saat saya masih kelas 2 sd...
    sedangkan kakak saya sudah kelas 2 smp....
    semenjak saat itu,, saya hanya menemukan satu teman yaitu buku...
    sedangkan kakak saya menemukan temannya... yaitu mabuk...

    BalasHapus
  10. tidak semua anak seberuntung madya....

    BalasHapus