Posting Terbaru

Senin, 02 Maret 2009

Paijo Seorang Pembelajar

Episode 1
Seperti biasa hari ini Paijo terlambat lagi, pasti jawabannya karena dia harus membatu membuka kios dan menata dagangan orang-orang di pasar. Seharusnya sebagai guru saya harus bersikap adil pada semua murid-muridku, tapi selalu saja aku tak mampu menghukum Paijo.
Paijo hanyalah seorang pelajar di sebuah SMK di sebuah kota kecil di Jawa Timur. Bapaknya sudah lama meninggal, dia tinggal bersama ibu dan adiknya di sebuah rumah yang bisa dibilang teramat sangat sederhana di sebuah gang buntu.
Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dan ibu serta adiknya, terpaksa mencari uang dengan membantu para pedagang membuka dan menutup bedak / kiosnya. Malam dia membatu memasarkan nasi dan gorengan di rumah sakit. Lumayan bisa buat tambah beli beras ibunya. Tapi semua itu dikerjakan dengan penuh semangat.
Tapi jangan tanyakan isi otaknya, nilai Fisika tak pernah kurang dari Sembilan. Diantara kesibukannya mencari nafkah tak pernah lupa membaca. Bahan bacaan di perpustakaan sekolah hampir semua pernah dibacanya; buku fiksi, tehnologi, agama, buku-buku motivator Indonesia maupun dunia serta yang lainnya. Kadang sampai hapal harganya.
Tugas sekolah tak pernah lalai dikerjakan , tulisannya sangat rapi dan dia sangatlah kreatif meskipun hidup dalam keterbatasan. Sehingga jangan salahkan saya, jika saya tak mampu menghukum keterlambatannya. Paijo memang beda.
Siswa yang lain mungkin akan marah-marah karena mendapat hukuman kalau terlambat, tapi dia tetap tegar dihukum seberat apapun. Di syukurinya seluruh keterbatasan yang dia miliki, yang penting masih bisa sekolah. Dia tak pernah mengeluh. Saya, gurunya sering harus belajar banyak padanya tentang ketegaran menghadapi hidup.
Suatu waktu ketika ada tugas membuat mading dinding pelajaran IPA dia sangat bersemangat mencari tambahan ilmu di internet.
Bu: “Ternyata dengan uang seribu saya bisa membuat email, mencari artikel serta mengirimkannya! Hebat ya bu saya bisa buat email! “, Aku hanya bisa tersenyum. Paijo akhirnya mampu mendunia. Bahagia sekali dia.
“Jo, Lusa jika kamu punya uang lagi buka blog ibu, beri komentar, hukumnya wajib!’, Kataku.
Seperti biasa pagi-pagi saya sudah ada di sekolah. Tiba-tiba, “Bu, …Bu fotonya saya ada diinternet. Cakep ya bu, siapa….. Paijo gitu lho!. Makasih bu, telah menduniakan foto kegiatanku’, Kata Paijo mengejutkanku.
“Begitu saja bangga?. Belum apa-apa Jo!”. Balasku.
“Hari ini fotoku yang mendunia, tapi lusa, tunggu karya terbaikku ya bu, tenang bu tenang, sabaaar!”, katanya sambil berlari. Begitulah keseharian Paijo. Meskipun hidup dalam keterbatasan tapi selalu ceria. Mensyukuri setiap apa yang diberikan Tuhan padanya.
Haripun terus berganti. Bumi tak pernah lupa pada tugasnya ‘tuk berotasi. Matahari selalu setia untuk berbagi energi. Alampun selalu menyediakan oksigen gratis untuk dinikmati. Tapi lagi-lagi si Paijo mengusik kebahagianku menikmati indahnya pagi.
“Bu, ternyata benar, seribu rupiah bisa buat blog. Blogku sudah jadi bu. Tapi fotonya belum ada. Lusa aku mau buat artikel tentang apa saja yang menarik minatku. Kirimi saya foto yang ada di dokumen ibu di e-mail , ya?. Jangan lupa! Saya tunggu”. Katanya sambil setengah memaksa.
“Manis dirimu, Jo…Jo!”. Balasku. “Dasar Paijo!, gerutuku.
“Ha…ha…. Salah siapa?, memberi tugas harus tanggung jawab !’, katanya sambil berlari.
Meskipun Paijo baru mampu membuat blog kosongan, tapi semua itu telah mebuatku bahagia. Karena internet belum masuk ke sekolahku. Anak-anak terpaksa ngenet di warnet. Kasihan deh mereka. Tapi aku terus menerus bersyukur dengan adanya keterbatasan ini. Saya yakin, suatu saat Pajo akan mampu berkarya secara maksimal.
Di sekolahku ada Paijo-Paijo yang lain. Mereka kelihatan sangat menikmati tugas-tugas yang kuberikan. Hanya ada satu tekatku, ingin menduniakan karya dan kegiatan-kegiatan siswa-siswaku. Dengan harapan Paijo suatu saat mampu menjadi seorang pemimpin yang berdedikasi dan seorang pembelajar sejati. Amin.

Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar