Posting Terbaru

Selasa, 31 Maret 2009

Bahagia Menjadi Guru

“Happiness comes of the capacity to feel deeply, to enjoy simply, to think freely, to risk life, to be needed. – Kebahagiaan berasal dari kapasitas untuk merasakan, menikmati, berpikir bebas, menghadapi resiko hidup, dan menjadi dibutuhkan.”
Storm Jameson.

Kebahagiaan adalah ide yang sangat abstrak dan bersifat sangat subyektif. Kebahagiaan dapat terkait dengan tercapainya suatu keinginan atau kebutuhan kita. Tetapi kebahagiaan seorang guru menurut saya sangat terkait dengan tanggung jawabnya mendidik dan mengajarkan nilai-nilai penting dan inspiratif terhadap para siswanya. Ketika seorang guru dapat melakukan beberapa hal berikut ini kemungkinan besar ia dapat memiliki semua sumber kebahagiaan bahkan lebih dari semua yang dipaparkan oleh Storm Jameson tersebut.

Seorang guru bahagia karena ia mencintai profesi sebagai pendidik. Ia mendapatkan kepuasan tersendiri ketika dapat mendidik para murid, walaupun mungkin kehidupan pribadi mereka sederhana dan jauh dari kemewahan. Seorang guru akan jauh lebih bahagia, jika apa yang telah mereka lakukan tak hanya membuat para murid pintar melainkan menginspirasi bahkan menggerakkan para murid untuk mengubah diri mereka menjadi lebih baik.

Mencintai proses pembelajaran dengan memperluas wawasan ilmu pengetahuan melalui berbagai macam buku, seminar, kaset, radio dan lain sebagainya adalah sumber kebahagiaan seorang guru. Karena tanggung jawab seorang guru bukanlah sekedar menjelaskan subyek atau materi pelajaran, melainkan memberikan contoh sikap bahwa kemauan untuk terus belajar dapat meningkatkan kreatifitas dan memaksimalkan potensi diri. Seorang guru akan semakin bahagia jika mampu menginspirasi para siswa belajar lebih giat.

Rasa syukur yang besar terhadap Tuhan YME mendatangkan keindahan dan kebahagiaan. Rasa syukur membuat guru lebih bahagia, karena rasa syukur itu membuatnya dapat menjelaskan ilmu pengetahuan kepada para muridnya dengan bahasa yang positif pula. Ia akan lebih bahagia jika sikap yang positif serta ilmu pengetahuan yang ia sampaikan menginspirasi para muridnya untuk lebih kreatif dan positif dalam menggunakan ilmu pengetahuan tersebut.

Seorang guru akan bahagia jika tidak membebani hidupnya dengan orientasi mendapatkan imbalan. Ia bahagia karena tidak pernah mengharap balas jasa dari murid atas semua yang diberikannya. Ia sudah cukup senang dapat mengabdikan diri untuk membentuk para tunas bangsa menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Guru akan bahagia jika berhasil membangkitkan semangat para murid yang nyaris terpuruk karena kehilangan jati diri. Untuk semua itu ia akan rela melakukan apapun, walaupun harus menghadapi banyak kesulitan. Mendampingi dan membentuk anak-anak didik menjadi tegar dan optimis, baginya jauh lebih menyenangkan dibandingkan apapun juga.

Seorang guru bahagia, jika ia menjadi diri sendiri dan tidak membandingkan dengan orang lain. Ia bebas berekspresi sebagai diri sendiri dalam menyampaikan ilmu pengetahuan agar terserap dan bermanfaat bagi anak didiknya. Ia akan berbahagia jika etika yang ia tunjukkan itu dapat menumbuhkan keberanian para murid untuk menjalani kehidupan dengan jujur dan menghargai diri sendiri.

Guru bahagia karena ia mencintai murid-muridnya, bagaimanapun keadaan mereka. Ia menikmati saat bersama-sama berjuang melawan keterbatasan diri dengan ilmu pengetahuan dan budi pekerti. Sebagaimana M. Scott Peck mengatakan, “When we love something it is of value to us, and when something is of value to us we spend time with it, time enjoying it and time taking care of it. – Ketika kita mencintai sesuatu maka itu akan berarti bagi kita. Ketika sesuatu berarti bagi kita, maka kita akan senang menghabiskan waktu untuknya, menikmatinya, dan memeliharanya”.

Guru yang bahagia adalah guru yang terus memperkaya ilmu pengetahuannya. Dengan demikian ia dapat mengkreasikan metode mengajar, sehingga para murid dapat dengan mudah menyerap ilmu pengetahuan yang ia sampaikan. Semakin luas ilmu yang ia miliki, semakin mudah baginya mengubah kesulitan hidup menjadi anugrah yang membahagiakan.

Seorang guru bahagia, karena kehidupannya berjalan seimbang. Keseimbangan tersebut dikarenakan ia mampu memanajemen waktu. Ia dapat menggunakan waktu secara efektif dan proprosional untuk diri sendiri, keluarga, profesi, kegiatan sosial, belajar dan beribadah.
belumnya Sumber kebahagiaan seorang guru berasal dari dalam dirinya sendiri. Ia bahagia ketika mampu menginspirasikan harapan, kebahagiaan, kekuatan sekaligus nilai-nilai moralitas kepada generasi masa depan. Ia akan lebih bahagia jika para anak didik itu mampu melakukan hal serupa dengan dirinya.

Tulisan ini bukan karya saya tapi karya Bp. Andrew Ho,adalah seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.Kunjungi websitenya di : www.andrewho-uol.com
Artikel ini adalah inti pembicaraan di Seminar Pendidikan “Menjadi Guru Yang Menyenangkan, Inovatif dan Kreatif.” (Anjuran Yayasan Pendidikan Sinar Dharma)

Entah mengapa artikel ini benar-benar mampu menginpirasi hidupku, yang kebetulan berprofesi menjadi guru. Semoga artikel ini juga mampu menginspirasi rekan-rekan guru yang lain. Amin.

Reaksi:

5 komentar:

  1. SOFATUL ANAM mengatakan ; guru sebagai tugas yang sangat berat butuh kepedulian hati untuk mendidik anak-anak menjadi pribadi yang lebih baik, karena bagaimanapun anak-anak didik itu berasal dari latar belakang yang berbeda-beda dan memiliki karakter yang berbeda sesuai dengan pergaulannya di rumah maupun di masyarakat, seorang guru tidak hanya melulu mengajar di depan kelas kemudian selesai pulang, namun butuh komponen-komponen yang melingkupinya. Oleh sebab itu pengorbanan seorang guru tidak hanya finansial semata, namun pikiran dan perasaan untuk membentuk pribadi seorang anak juga tidak boleh ditinggalkan, walau kadang yang diajak lebih baik sulit untuk berubah dan bahkan lebih amburadul karena pengaruh yang kurang baik disana-sini. Namun pengabdian dan perjuangan yang tulus akan menorehkan "tinta emas' di hati anak-anak ketika mereka merasakan betapa tulusnya seorang guru mendidik dan membina saat masih sekolah.Ilmu seorang guru akan menjadi bertambah bagaikan air terjun yang terus tumpah ke daratan dan terus mengalir ke sungai-sungai hingga bermuara di laut yang lebih luas.Jayalah kau guruku....,banggalah dengan profesimu jangan ada rasa minder di hati, hanya karena gaji yang belum mendukung kesejahteraan diri dan keluarga.

    BalasHapus
  2. Terima kasih semangatnya.

    Sya sangat bangga dengan profesi saya. Masalah materi, saya lebih percaya dengan matematika sedekah. Suatu saat akan saya postingkan.

    Sekali lagi terima kasih.

    BalasHapus
  3. bu blog saya gimn tolong di comment ya bu.alamatnya ekowigit.blogspot.com.saya sudah berusahakan bu

    BalasHapus
  4. Sekiranya spirit, motivasi, wacana dan wawasan berpikirnya guru-guru di tanah air ini seperti mba Puspita tidak bisa dibayangkan betapa akan majunya dunia pendidikan kita kelak.Yang membuat betapa buramnya potret dunia pendidikan jauh tertinggal dibanding negara2 lain tentu tidak terlepas dari peranan para guru2 itu sendiri.Bisa dibilang sebagian besar guru-guru yang berdiri di depan para anak didik karena faktor "keterpaksaan".Menjadi guru bukan menjadi pilihan prioritas pertama.Bisa jadi karena mereka gagal malamar kerja di lembaga/instansi2 bonafide akhirnya motto mereka seperti ini:"Jadi seorang gurupun, ya jadilah, yang penting tidak jadi pengangguran." Betapa pun juga pepatah lama yang mengatakan, "Jika guru kencing berlari maka murid kencing jungkir balik dan marathon" masih tetap ada relevansinya.Duh, sekiranya aku dulu sempat menjadi muridnya mba Puspita tentu aku bisa belajar banyak tentang membuat artikel-artikel dan ngeblog agar menarik seperti artikel dan blognya bu guru Puspita.Betapa tidak, soalnya bisa dihitung dengan jari guru guru kita yang mahir internetan apalagi sampai "ngeblog" segala.Jangankan pake komputer pake mesin tik manual saja masih banyak yang keringat dingin.

    BalasHapus
  5. @Tyan; saya segera meluncur.

    @Kata-kata Mutiara; Saya jadi malu, belum apa-apa. Kita berdoa bersama semoga tahun ajaran baru semakn banyak guru yang memiliki blog. Amin.

    BalasHapus