Posting Terbaru

Jumat, 25 Desember 2009

Nikmati Saat Ini

Seperti biasa setiap habis subuhan kami sekeluarga sibuk membersihkan rumah dan halaman sebelum berangkat sekolah. Kebetulan saya dan bapaknya anak-anak berprofesi guru sedangkan kedua putraku masih duduk di SMA.

Pagi tu entah mengapa , tidak seperi biasanya suamiku mengambil tongkat berusaha menggoyang-goyangkan tangkai-tangkai pohon nangka, kedondong dan belimbing di halaman depan rumah. Mungkin beliau ingin meringankan tugas harianku menyapu halaman. Hampir setiap pagi minimal tiga tempat sampah (cikrak) daun kering saya kumpulkan. Menyapu sampah daun kering di musim hujan seperti ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Oleh karena itu suamiku mengambil inisiatif meringankan tugasku, supaya siang nanti saya tidak perlu menyapu. Saya lanjutkan menyapu sambil tersenyum dalam hati. Setiap hari saya memilih menyapu halaman daripada membersihkan rumah. Menyapu dan ngepel bagian suami dan kedua putraku.
Ketika pulang sekolah halaman rumahku sudah penuh sampah daun kering seperti biasanya. Tiba-tiba suamiku muncul dari dalam rumah sambil tertawa, “Ha …ha …ha. Ternyata …… daun-daun tetap berguguran!”
Saya hanya tersenyum melihat sikap suamiku.
Nikmati saat ini, di sini dan sekarang. Jangan selalu risaukan hal-hal yang akan terjadi siang nanti, sore dan esok hari karena waktunya belum tiba. Banyak hal di dunia ini yang tidak bisa datang lebih awal dari sesungguhnya. Menghargai dan menikmati saat ini adalah sangat penting dibandingkan dengan hal-hal yang lainnya”, lanjut suamiku sambil mengikutiku masuk rumah.
“Mari …mari kita nikmati saat ini. Jangan memaksakan diri. Mari kita syukuri saat ini supaya hati kita selalu tentram dan bahagia. Kebahagiaan letaknya di dalam hati.” Begitulah kami berdua suka saling ejek dan bergurau dalam menjalani hari-hari dan kesempatan yang di berikan Allah SWT kepada kami.
“Inggih ….. mbah. Sendika nde Derek dawuh. Sampun sholat luhur?”, tanyaku.
Suamiku berjalan ke sumur tanpa menyahut pertanyaanku

Reaksi:

11 komentar:

  1. jalani, dan enjoy for Live... :)

    BalasHapus
  2. @Demoffy; siiplah. SElamat berjuang!

    BalasHapus
  3. Setuju banget mbak...
    Koq kita sama yah Mbak..., Saya juga sama2 guru.
    Setiap pagi setelah shalat subuh menyapu halaman bersama......

    Mari senantiasa menikmati hidup ini dengan penuh keceriaan.

    BalasHapus
  4. Aapa yang ada itulah yang terbaik diberi Tuhan mbak
    jadi wajib dinikmati..
    thanks atas pencerahannya ya mbak

    BalasHapus
  5. Nikmati perjuangan saat ini. :)

    BalasHapus
  6. wah, saya kok lupa, apa komentar dimoderasi ya, mbak? soalnya komentar saya kok gak muncul, ya?

    BalasHapus
  7. ternyata nggak dimoderasi. tak ulang deh.

    sama dengan nasehat om saya selalu: syukuri dan nikmati. jangan kuatir akan apa yang akan terjadi. live the moment kata orang jawa, carpe diem kata orang minang. hehe.

    BalasHapus
  8. Apapun memang harus dibuat enjoy...
    Kalau di rumah saya, sampahnya nggak dari pepohonan tapi dari saya dan dua anak saya.
    Apalagi kalau ngumpul, sehari2 adanya memproduksi sampah melulu...

    Beruntung istri saya kuat lahir batin...

    BalasHapus
  9. @Seti@wan Dirgant@Ra; mari kita nikmati hidup dengan penuh keceriaan.

    @Itik Bali; Thank juga. Salam kangen.

    @nahdhi; ya mari kita nikmati perjuangan hari ini.

    @Marshmallow; terima kasih Uni semoga Allah mebalas kebaikan Uni.

    @Marsudiyanto; Bapak memang selalu beruntung. Saya yakin karena Pak Mars selalu berbagi berbagi ilmu hampir setiap hari. Sayang sekali saya belum bisa menjadi murid yang baik.

    BalasHapus
  10. assalamualaikum...tok..tok...bu..ni blog saya..hhuuuuahhh belum lengkap bu..

    BalasHapus