Posting Terbaru

Selasa, 01 Desember 2009

HADAPI MASALAH DAN CARI SOLUSINYA


Beberapa hari yanga lalu kembali saya terima sms dari salah seorang siswa terbaik kami, intinya Dedy (bukan nama sebenarnya) minta saran pindah kelas. Mengapa? Seberat apakah permasalahannya hingga punya keinginan pindah kelas. Sudah agak lama saya amati ketidak harmonisan hubungan Dedy dengan teman-temannya di kelas.  Salah satu pemicunya, karena Dedy menjadi kesayangannya guru-guru sedangkan yang lain tidak (menurut kaca mata teman-temannya). Dedy selalu mendapat nilai baik bahkan terbaik di kelasnya. 
Dia memang anak yang baik, jenius dan cepat tanggap terhadap tugas yang diberikan guru padanya. Pekerjaannya selalu rapi, baik pelajaran adaptif, normatif dan produktif.  Tapi sayang sekali dia sedikit  memiliki sifat egois. Emotional Questionnya kurang baik. Seringkali menganggap remeh teman. Hasilnya dia dijauhi oleh teman-temannya dan kebetulan dia berada di kelas yang agak bermasalah.
Pada saat di kelas X belum banyak timbul masalah. Kini setelah berada di kelas XI semakin memperlebar jarak dengan teman-temannya. Sebenarnya ada beberapa masalah pribadi yang dia pendam tanpa mau terbuka dengan teman-temannya, dengan tujuan sebenarnya hanya tidak mau merepotkan serta menimbulkan prasangka buruk. Ternyata semua itu juga menimbulkan persepsi jelek dari teman-temannya. Semakin hari semakin buruk. Dan kelihatannya hari ini mencapai puncak kesabarannya.
Beruntung Dedy masih mau berkonsultasi. Akan lebih berbahaya jika dipendam tanpa mendapat pencerahan dan bantuan menyelesaikan permasalahannya.
Kadang saya goda, “Fisika bisa dapat  sepuluh. Menghadapi masalah kehidupan kok …. Loyo ?!. Semangat …Semangat! Jangan lari dari masalah. Jangan menyerah dan jangan pernah putus asa.”
Salah satu saran saya, menulis … menuliskan semua permasalahannya, biar hatinya sedikit lapang. Lega. Sehingga mampu berpikir jernih. Tidak emotional.  Bahkan beberapa siswa mampu menulis di dalam blognya. Ketika permasalahnya bisa dilewati dan memperoleh hasil yang baik. Bisa menjadi memory yang membahagiakan dimasa datang.
Setiap ada siswa mengadukan permasalahannya, seringkali hanya saya bekali buku supaya dibaca. Belajar secara otodidak terlebih dahulu. Dan hasilnya ada banyak siswa mampu menyelesaikan permasalahannya sendiri dari membaca. Bisa dimulai dari bacaan ringan tentu saja. Mungkin bisa di mulai dari serial teenlit jika perempuan, buku-buku tetralogi milik Andrea Hirata serta buku-buku motivator (Andrie Wongso, Ary Ginanjar,  Agus Mustofa, Renald Kasali, Paulus Winarto, John Mazwell, Krisnha Mukti,  Rhonda Byrne,  Wallace D Wattles, dll) untuk mengasah kepekaan nalurinya.
Bagi yang tidak suka membaca …. Memang agak sedikit repot, namun ada saja jalan keluar yang bisa kita berikan ke siswa sebagai solusinya jika kita memang berniat belajar, belajar membimbing siswa menjadi dewasa. Saya bukan guru BP (Bimbingan Penyuluhan) namun saya suka mempelajari psikologi perkembangan remaja, sehingga seringkali menjadi rujukan siswa untuk membantu mencarikan solusi permasalahan yang sedang dihadapi. Padahal pada dasarnya mereka berjuang mencari solusi sendiri.
Andai saya biasa mencatat seluruh pengalaman selama saya mengajar mungkin  bisa menjadi sebuah buku yang menarik. Sayang sekali masih jauh beras dari dandang.
Masih banyak siswa yang memiliki masalah, sebagian besar tidak tahu harus bicara dengan siapa, sebagian yatim/piatu, bahkan beberapa terpaksa hidup sendiri sementara orangtuanya merantau. Jika mereka salah bergaul/berteman, bukan solusi yang didapatkan melainkan permasalahan mereka semakin buruk,  bahkan mereka bisa lari ke rokok, minuman keras dan narkoba. Mereka berusaha lari dari permasalahannya dengan mengkonsumsi barang haram. Pelarian semu.
Sudah waktunya orangtua, guru dan masyarakat bersatu padu membangun mental dan berempati pada permasalahan remaja supaya mereka tidak salah jalan. Berani menghadapi masalah dan mencari solusinya bukannya lari dari masalah. Lari pada rokok, minuman keras dan narkoba. Yang lebih parah pada sexbebas.



Reaksi:

3 komentar: