Posting Terbaru

Senin, 17 Agustus 2009

Sensitif Terhadap Perubahan


Membaca Artikel Pendidikan Pemenang juara I Lomba Karya Tulis Ilmiah ( LKTI )Tingkat Regional (Jawa Timur) Tahun 2009 yang diselenggarakan Redaksi majalah Media dengan judul Strategi Meningkatkan Peran Guru Sebagai “Agent Of Change” Pembelajaran Siswa karya Dr. Arifin, M.Si, agak lama saya merenung dan bertanya dalam hati, mampukah saya menjadi agen perubahan?.
Saya jadi teringat cerita tentang seekor katak yang terjatuh kedalam sebuah panci besar berisi air yang sedang dipanaskan. Semula air tak terasa panas dan ia sangat menikmati. Tetapi tanpa ia sadari lama kelamaan air itu semakin panas. Lalu katak itupun mati dalam air mendidih. Lain cerita jika katak itu langsung dilempar kedalam air panas. Mungkin ia akan segera melompat keluar.
Kisah tersebut menggambarkan betapa penting bersikap sensitif terhadap perubahan. “Become a student of change. It is the only thing that will remain constant. – Menjadi pelajar perubahan merupakan satu hal yang abadi,” kata Anthony J. D’Angelo, penulis The College Blue Book. Bila kita sudah berhasil mencapai target (mendapat gelar), bukan berarti kita bisa tidur lagi tetapi kita harus terus belajar supaya lebih peka dan selalu siap berubah.

Namun sayang fakta di lapangan menyatakan begitu banyak orang di Indonesia setelah selesai sekolah dan mendapat gelar berhenti belajar. Siapa yang patut di salahkan dalam kenyataan ini, saya pikir kita tidak perlu saling menyalahkan namun kita harus bersama-sama meraba apa yang sudah kita lakukan sebagai orangtua/guru selama ini. Menyalahkan system pendidikan tidak ada gunanya, hanya buang-buang waktu saja.
Bagaimana anak/siswa kita akan sensitif terhadap perubahan kalau sebagai orangtua tidak mau berubah maupun belajar, salah satu upaya untuk berubah adalah dengan membaca dan berkarya dan berjuang menjadi diri sendiri. Berani memerdekakan seluruh potensinya. Memang banyak hambatan, namun kalau mereka mau berjuang pasti berhasil karena dibalik setiap hambatan tersedia banyak jalan keluar. Berani mengubah hambatan/kegagalan menjadi peluang keberhasilan.
Mungkin benar apa yang dikatakan salah satu teman blogger, pada jaman sebelum Indonesia merdeka kita berperang melawan penjajah, mungsuhnya jelas namun mungsuh kita di era global ini bersifat multidimensi, memerlukan kebijaksaan yang lebih dalam mensikapinya. Oleh karena itu setiap saat kita perlu belajar, belajar mengejar ketertinggalan dan belajar bijak mensikapinya.
Beberapa hari yang lalu saya membaca potongan Koran berisi artikel dengan judul “Jadi Orang Tua Jangan Gaptek”, secara teori mudah diucapkan namun pelaksanaannya …?. Namun himbauan ini memang perlu kita pahami untuk dilaksanakan bukan berhenti sebagai teori.
Salah satu mungsuh terkuat saya adalah acara TV, karena kebetulan saya seorang guru. Di rumah tidak ada masalah, karena kami memang jarang nonton acara TV kecuali berita atau si Bolang, kalaupun nonton reality show hanya untuk belajar, saja itupun sangat jarang kami lakukan.
Bagaimana dengan siswa –siswa kita, sebagian besar orangtuanya keracunan sinetron, sampai lupa mendongeng untuk anaknya. Kadang kalau dipikir menprihatinkan sekali, fakta ini bisa jadi ladang amal bagi guru untuk memotivasi siswa, berpikir kreatif mensikapi keadaaan, diantara proses KBM yang melelahkan, minimal beri anak-anak rujukan bahan pustakanya, saya yakin mereka akan membaca, atau minimal berbagi fotocopy artikel-artikel yang mampu memotivasi siswa. Atau saling berkirim artikel via email.
Generasi era global ini memang menghadapi mungsuh yang lebih tangguh namun seringkali mereka hanyut dengan pikiran negatif sehingga muncul kenakalan remaja di mana-mana, karena mereka tidak tahu mau berkawan pada siapa untuk mengalahkan mungsuh-mungsuh mereka, supaya mereka mampu menyeimbangkan emosinya didalam keterbatasan senjatanya (materi, kecerdasan, kepedualian dll). Sudah waktunya kita bahu membahu mengatasi musuh-mungsuh yang bersifat multidimensi.
Sensitif terhadap perubahan memungkinkan kita terus berkembang dan berhasil. Sebagaimana Mark Victor Hansen mengatakan, “You must be on top of change or change will be on top of you. – Anda harus berada diatas perubahan, atau perubahan itu menggilas Anda.”
Akhirnya mampukah kita menjadi agen perubahan bagi anak-anak kita dan siswa-siswa kita supaya mereka sensitif terhadap perubahan?


Reaksi:

23 komentar:

  1. Wah... Miftahur Pertamanya nih....
    Aku harus berubah, Hari ini harus lebih baik dari kemaren, dan akan lebih baik lagi esok hari...
    Semoga Tuhan memberi kemampuan...

    BalasHapus
  2. “You must be on top of change or change will be on top of you. – Anda harus berada diatas perubahan, atau perubahan itu menggilas Anda.”

    Setiap perubahan pasti meninggalkan bekas, kita hanya bisa berupaya agar bekas yang ditinggalkan tidaklah berdampak buruk terhadap kita dengan berupaya memahami makna dari perubahan itu sendiri.

    Tidak ada yang abadi diatas dunia ini, semuanya pasti berubah. Yang abadi adalah perubahan itu sendiri.

    Nyambung nggak yah? nggak khan? he.. he..

    Nice posting mbak.

    BalasHapus
  3. Perubahan itu perlu (perubahan yang positif tentu saja), namun tak kalah pentingnya adalah adaptasi terhadap perubahan tersebut dan bagaimana kita bisa me-manage perubahan tersebut agar bermanfaat bagi semua...

    BalasHapus
  4. perubahan.... hmmm menakutkan ya?
    lha berubah lebih baik apa berubah lebih buruk?

    BalasHapus
  5. bukankah perubahan adalah hal yang paling abadi di dunia ini ya, mbak? mulialah guru yang bertindak sebagai agen perubahan. namun tugas mendidik tak semata diemban oleh guru di sekolah, juga orang tua di rumah. persis seperti yang mbak puspita contohkan pada tulisan ini. salah didik maka akan salah pula perilaku yang ditanamkan.

    BalasHapus
  6. @Miftahur; Amin. Selamat berjuang.
    @Bapak Seti@wan; jangan sampai kita tergilas oleh perubahan. amin.
    @Bapak Yari NK; benar Bapak kita memang harus memanage perubahan agar bermanfaat. Setuju.
    @Mas suwung; pasti perubahan yang positif mas.
    @Marshmallow; terima kasih Uni.

    BalasHapus
  7. Mampir sore hari berharap segelas kopi untuk perubahan

    BalasHapus
  8. Saya mengucapkan SELAMAT menjalankan PUASA RAMADHAN.. sekaligus Mohon Maaf Lahir dan Bathin jika ada kata kata maupun omongan dan pendapat yang telah menyinggung atau melukai perasaan para sahabat dan saudaraku yang kucinta dan kusayangi.. semoga bulan puasa ini menjadi momentum yang baik dalam melangkah dan menghampiriNYA.. dan menjadikan kita manusia seutuhnya meliputi lahir dan bathin.. meraih kesadaran diri manusia utuh.. meraih Fitrah Diri dalam Jiwa Jiwa yang Tenang

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    BalasHapus
  9. selamat datang romadhon ,and buat apa negatif thinking bila kita bisa

    BalasHapus
  10. perubahan jika ranahnya untuk menjadi lebih baik tentu memang seharusnya begitu
    namun kadang perubahan juga perlu disesuaikan dengan pengaruh yang ada dan akan ditimbulkan ;)

    BalasHapus
  11. @Kang Boed; Sama-sama, semoga Allah memberi kesehatan dan kesempatan pada kita semua untuk menjalankan perintahNya. Amin.
    @Young guns; terima kasih. Selamat berjuang.
    @Kontes Seo; harapannya memang seperti itu, kita memang harus terus menerus belajar untuk beradaptasi dengan perubahan itu sendiri sehingga mampu menyaring mana baik dan mana yang tidak baik.

    BalasHapus
  12. Tantangan berat buat kaum pendidik ya, mbak! Salut deh ama mbak. Kalo bukan org2 kayak mbak, gimana generasi penerus kita bakal bisa membangun bangsa ini menjadi kuat? Teruskan perjuanganmu, mbak!

    BalasHapus
  13. selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan....

    membaca tulisan jeng Puspita saya jadi ingat bapak saya....beliau selalu menekankan "progress", jadi tiap hari harus ada kemajuan....ngga boleh mandhek, nah untuk itu kami harus selalu belajar..apa saja.
    hari ini harus lebih baik dari kemaren...itu sudah "progress".

    nyambung ga yah?

    BalasHapus
  14. @Fanda; menjadi guru itu memang sangat membahagiakan karena banyak tantangannya. Terima kasih mbak Fanda motivasinya.
    @amethys; saya baru tahu istilah "progress". Terima kasih ilmunya.

    BalasHapus
  15. berubah jadi lbh baik nih

    BalasHapus
  16. @Pencerah; kok bisa?. Terima kasih kunjungannya.
    @Silvi; harus, harus berubah menjadi lebih baik. Terima kasih kunjungannya.

    BalasHapus
  17. bu kenal,,,?
    q dlu murid bu puspita lo,,tpi kebetulan ibu belum pernah ngajar di kelasku mungkin gak kenal ma aku,,
    klo ibu berkean,, mampir ke blog saya ya,,!!!

    BalasHapus
  18. Alhamdulillah akhirnya doa ibu selama ini dikabulkan Allah SWT.

    Ibu sudah kunjungi blog Nanda, salam ibu buat para Alumni semua.

    Selamat berjuang.

    BalasHapus
  19. Saya kok yakin sekali Bu Pus mampu mejadi agent of change...

    BalasHapus
  20. @Bapak Deni; Terima kasih motivasinya, semoga Allah membalas kebaikan Bapak. Amin. Tapi menurut pemikiran saya, perjuangan masih panjang.

    BalasHapus
  21. dg kata lain, kita tak boleh puas dg prestasi yg kita peroleh ya,mbak. harus terus berjuang dan berusaha utk lebih berhasil lagi.

    BalasHapus