Posting Terbaru

Jumat, 04 September 2009

Pendidikan Holistik, Upaya Mencetak Generasi Berkarakter (1)


Pendidikan holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual.

Pada era tahu 1960-an pendidikan holistik sempat ditingalkan para pakarnya, namun pada tahun 1970-an mulai dikembangkan kembali sejak dilaksanakan konferensi pertama pendidikan Holistik Internasional yang diselenggarakan oleh Universitas California pada bulan Juli 1979, dengan menghadirkan The Mandala Society dan The National Center for the Exploration of Human Potential.
Bicara masalah pendidikan holistik perlulah kiranya kita semua belajar pada ibu Ratna Megawangi, Ir. M.Sc, Ph.D. pelopor pendidikan holistik berbasis karakter di Indonesia. Pendiri dan Direktur Eksekutif Indonesia Heritage Foundation, yang mengelola hampir 100 sekolah karakter di berbagai penjuru tanah air.
Tujuan pendidikan holistik adalah membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris dan humanis melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya (Basil Bernstein).
Sembilan pilar karakter yang dikembangkan di dalam penyelenggaraan pendidikan holistik;
1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaaan-Nya
2. Kemandirian dan tanggungjawab;
3. Kejujuran/amanah, diplomatis;
4. Hormat dan santundermawan,
5. Suka tolong-menolong dan gotong royong/kerjasama;
6. Percaya diri dan pekerja keras;
7. Kepemimpinan dan keadilan;
8. Baik dan rendah hati
9. Karakter toleransi, kedamaian, dan kesatuan.
Model pendidikan holistik menggunakan tiga metode, yaitu: knowing the good, feeling the good, dan acting the good.
Knowing the good bisa mudah diajarkan sebab pengetahuan bersifat kognitif saja.
feeling loving the good, yakni bagaimana merasakan dan mencintai kebajikan menjadi engine yang selalu bekerja membuat orang mau selalu berbuat sesuatu kebaikan. Orang mau melakukan perilaku kebajikan karena dia cinta dengan perilaku kebajikan itu
acting the good berubah menjadi kebiasaan.
Setiap anak untuk tiba pada perilaku berkarakater kuat membutuhkan proses luar biasa sulit, butuh perjuangan yang tidak mudah. Namun kalau anak sudah terbiasa berbuat baik, sekali dia berbuat tidak baik sudah tidak enak. Timbul budaya malu dalam dirinya jika melakukan perbuatan buruk. Termasuk menyontek pada saat ulangan.
Harapan ke depan Pendidikan di Indonesia mampu melahirkan Generasi Berkarakter sehingga mampu Mengembalikan Jati Diri Bangsa.

Reaksi:

30 komentar:

  1. Good write mbak! Subhanallah.. menjadikan kebiasaan yang baik itu yang cukup sulit. Semoga, kelak para pelajar mampu di didik untuk menjadi enterpreuner sejati, bukan karyawan sejati. (nah lho, gak nyambung khan koment saya?)

    BalasHapus
  2. hehehehe.. pagi2 dah berkunjung ke rumah Bu Guru.. Bu Guru, jadikan aku orang yang berilmu, meskipun tanpa menjadi Guru.

    BalasHapus
  3. Wah bener-bener ideal sekali jika diterapkan di Institusi Pendidikan Formal di Indonesia. Tapi sayang sekali kita harus berpikir realistis, dengan ketidakmampuan kita bersama untuk mewujudkan pendidikan holistik seperti yang ibu tuliskan.

    BalasHapus
  4. kapan seluruh indonesia bisa gitu?

    BalasHapus
  5. Kapan ya? sekarang kan saia udah mulai masuk kuliah.

    Dan kebetulan, materi yang ibu bahas itu dibahas saat saia opspek.

    BalasHapus
  6. Smoga Pendidikan Holostik nggak cuman SLOGAN !!

    BalasHapus
  7. Idealisme memiliki dunia tersendiri. Ideal hakiki hanya milik Yang Maha Ideal. Namun memang dalam setiap hal selayaknya kita selalu menjadikan yang ideal itu sebagai pedoman dan cermin untuk tidak terlalu jauh menyimpang. Saya melihat model pendidikan holistik merupakan sebuah upaya dalam rangka itu. Maka bagaimanapun juga ini layak diapresiasi sebagai sebuah alternatif untuk menjadikan pendidikan di Indonesia semakin baik.
    Ibu, terus lanjutkan menulis. Semakin banyak referensi teori semakin bagus. Setidaknya, kita jangan berhenti berimprovisasi.

    BalasHapus
  8. wah mantap...kalo bisagitu mantap bener...

    BalasHapus
  9. tentu guru yang harus menjadi teladan pertama.
    tapi nampaknya keteladanan sangat langka saat ini.
    guru saya jaman dulu begitu berwibawa dan setiap langkah dan kata - katanya begitu terukur.
    namun saat ini saya sendiri merasa belum mampu menjadi teladan yang baik. posting yang bagus.

    BalasHapus
  10. Kurikulum terintegrasi dalam pendidikan holistik membuat siswa belajar sesuai dengan gambaran yang sesungguhnya, hal ini karena kurikulum terintegrasi mengajarkan keterkaitan akan segala sesuatu sehingga terbiasa memandang segala sesuatu dalam gambaran yang utuh. Kurikulum terintegrasi dapat memberikan peluang kepada siswa untuk menarik kesimpulan dari berbagai sumber infomasi berbeda mengenai suatu tema, serta dapat memecahkan masalah dengan memperhatikan faktor- faktor berbeda (ditinjau dari berbagai aspek). Selain itu dengan kurikulum terintegrasi, proses belajar menjadi relevan dan kontekstual sehingga berarti bagi siswa dan membuat siswa dapat berpartsipasi aktif sehingga seluruh dimensi manusia terlibat aktif (fisik, social, emosi, akademik).

    BalasHapus
  11. Seandainya para guru (kita semua) bisa melakukan itu semua...

    BalasHapus
  12. dalem artikelnya
    mulia cita-citanya
    semoga bisa betul-betul menjadikan indonesia yang lebih baik di esok hari :)

    BalasHapus
  13. saya tetap lebih yakin dengan sistem pendidikannya Ki Hajar Dewantara...

    BalasHapus
  14. Mampir malem bu Guru....
    Pendidikan holistik, artikel yang bagus Bu Guru.

    BalasHapus
  15. artikel yang sangat menarik, bu pita. agaknya pendidikan holistik semacam inilah yang belum teraplikasikan secara nyata di negeri ini. praktik pendidikan kita masih bercorak parsial. akibatnya, pendidikan karakter dan budli pekerti yang seharusnya menjadi basis dan landasan dalam membangun kepribadian anak jadi suliut terwujud.

    BalasHapus
  16. Baru sekarang aku tahu arti pendidikan holisctic itu. Thanks buat sharingnya, mbak! O ya, ada award di blogku buat mbak Puspita. Silakan diambil disini: http://bukufanda.blogspot.com/2009/09/mengupas-arti-nasionalisme.html

    BalasHapus
  17. Pendidikan memang harus holistik, menyentuh dasar2 nilai kemanusiaan..
    Sip postingannya.

    BalasHapus
  18. wah low da begitu sekolah kita pasti maju terus donk....komar 2m2

    BalasHapus
  19. Knowing The good, Feeling the good, and Acting the good....
    Kita jadi bisa menikmati hidup ya BU...

    BalasHapus
  20. menjadi orang baik itu juga harus cinta sama kebaikan ya... :)

    BalasHapus
  21. jamanku biyen jik usum nyatet. aku dadi sekretaris, dadi sering gak nulis, tibake ning omah nulis dewe nyalin teko tulisane konco.. hohoho...

    BalasHapus
  22. Hmm...pendidikan holistik
    jadi penasaran ntu sperti apa. Pasti dapat membentuk karakter yang lebih padu

    BalasHapus
  23. "Timbul budaya malu dalam dirinya jika melakukan perbuatan buruk. Termasuk menyontek pada saat ulangan."
    Suka banget ama pernyataan diatas. Saya sendiri udah mahasiswa mbak, tapi tiap kali ujian temen2 kuliah pasti pada nyontek. Ga ada bedanya antara siswa dan mahasiswa, mungkin inilah diperlukan pendidikan holistik

    BalasHapus
  24. Setuju bu....
    Hidup Indonesia... :)
    Pendidikan di Indonesiaharus ditingkatkan baik sisi SDM-nya maupun dari kualitas yang diberikan (meteri)

    BalasHapus
  25. Kok blog berubah total bu......?

    BalasHapus