Posting Terbaru

Rabu, 02 September 2009

Cara Mengurangi Subyektifitas Guru di Sekolah Modern

Kita semua mengerti bahwa subyektifitas guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akan mempengaruhi mental siswa, di sekolah modern subyektifitas guru sudah diantisipasi dengan peralatan elektronis.
Satu setengah bulan yang lalu tepatnya pada tanggal 11 Juli 2009 Bapak Dahlan Iskan CEO Jawa Pos mendapat undangan menghadiri peresmian gedung baru Madrasah di Singapura.

Berikut sebagian catatannya:
Madrasah itu punya sistem pembelajaran yang modern. Setiap bangku pada salah satu ruang kelas, misalnya, dilengkapi dengan alat elektronis.
Di depan kelas terdapat sebuah papan yang selain dapat ditulisi juga bisa jadi layar proyektor. Misalnya kalau seorang guru (ustad) suatu saat harus menampilkan pertanyaan. Di masa lalu para murid akan berebut angkat tangan (ngacung) untuk menunjukkan siap menjawab. Dalam kasus ada beberapa anak yang berbarengan mengangkat tangan, maka akan terjadi subjektivitas sang guru: mau memilih murid yang mana untuk menjawab lebih dulu? Pilihan subjektif itu bisa merusak mental si anak. Ada saja anak yang merasa dianaktirikan karena angkat tangannya diabaikan oleh guru.
Di madrasah Singapura tersebut tidak akan pernah terjadi hal seperti itu. Ketika di layar proyektor muncul pertanyaan, para siswa (santri) bisa langsung memijit alat elektronis yang ada di tangannya. Dari situ bisa diketahui siapa yang lebih dulu memijit tombol. Nah, dialah yang berhak menjawab lebih dulu.
Setelah membaca catatan beliau timbullah imaginasi di benak saya, andai saya mengajar di sekolah modern seperti Madrasah di Singapura ini pasti tidak pernah mendapat complain dari siswa. Di sekolah tradisional guru hanya bisa menggunakan kepekaan perasaan untuk menentukan siswa yang berhak maju terlebih dahulu.
Mari kita baca catatan selanjutya;
Di kelas pelajaran bahasa Arab, misalnya, papan tulisnya juga bisa jadi papan elektronis. Misalnya, ada enam pertanyaan di sebelah kanan. Lalu, ada pilihan jawaban di sebelah kiri. Maka, pilihan jawaban tersebut bisa digeser-geser untuk disesuaikan dengan pertanyaannya. Tulisan-tulisan di papan itu, yang dipancarkan dari proyektor, bisa dipindah ke bagian mana pun di papan itu tanpa harus menghapus dan menuliskannya lagi.
Saya mencoba menjadi siswa di situ. Saya memegang alat elektronis berbentuk seperti spidol. Alat itulah yang saya pakai menggeser kata ”hua (dia) Ustman bin Affan” agar sejajar dengan pertanyaan ”man hua (siapa dia)?.”
Di kelas bahasa Inggris (dan juga Arab), digunakan software komik. Setiap siswa menghadap ke komputernya. Lalu, di layar masing-masing muncul komik yang tidak ada dialognya. Muridlah yang harus mengisi kolom-kolom kosong di komik itu sesuai dengan kalimat percakapan yang dia inginkan. Maka, saya lihat kelas bahasa itu seperti anak-anak lagi main game. Alangkah menyenangkan. Sebagian komik diambil dari server sekolah sendiri dan sebagian lagi diambil secara online lewat internet.
Di kelas matematika untuk kelas 1 ibtidaiyah/SD, alat peraganya juga elektronis. Di layar proyektor itu ada gambar timbangan. Di sisi kiri si guru menaruh gajah dengan berat 705 kg. Di pojok layar yang lain tersedia beberapa angka yang bisa dipindah-pindah dengan kursor. Tugas si murid menaruh angka-angka itu di timbangan sisi kanan. Kalau angka yang ditimbun di situ sudah sama dengan berat si gajah, timbangan akan seimbang. Kalau belum, masih terlihat njomplang. Begitulah. Saya tidak melihat pemandangan sekolah lagi. Saya seperti melihat kios playhouse yang besar.
Demikian sebagian oleh-oleh perjalanan Bp. Dahlan Iskan ke Singapura.
Kapan sekolah-sekolah di Indonesia dilengkapi peralatan elektronis?. Sayang Pak Dahlan Iskan tidak menceritakan berapa SPP siswa Madrasah tersebut, mahal tidak ya? Bagaimana pendapat teman-teman?.








Reaksi:

24 komentar:

  1. Kalau di Indonesia disediakan alat sejenis itu pasti cepet rusak oleh ulah murid2 kita...
    Itu Pasti !!!
    Nek rak malah rusak diprotholi digowo bali...

    BalasHapus
  2. semuga dunia pendidikan kita makin maju .. amin

    BalasHapus
  3. Sama aja kok bu mau di sekolah modern ataupun sekolah katrok ya tetep aja masih ada subjective cause walau bisa ditekan sekecil mungkin.

    BalasHapus
  4. kata" mas Marsudiyanto ada benarnya juga...

    gag semua anak" bisa diajak modern...

    BalasHapus
  5. @marsudiyanto; di sekolah saya bisa terjadi, namun di kelas kedua putra anak saya bisa terjaga.Atau mungkin karena rata-rata berasal dari keluarga menengah ke atas.
    @Bang Ais; semoga bisa tercapai. Amin.
    @omahmiring; setuju. Sekolah modern punya beberapa sisi negatif juga.
    @Fery; Memang benar tidak semua anak bisa diajak moern namun kita semua perlu berubah.

    BalasHapus
  6. Maju banget madrasah disana...
    walaupun madrasah di Indonesia blum semaju singapura, tapi semangat belajar tetap tinggi

    BalasHapus
  7. Keren, suka banget ama pelajaran bahasa Inggrisnya
    harusnya kita juga menerapkan pembelajaran bahasa inggris seperti itu, biar momok menakutkan bagi sebagian siswa hilang

    BalasHapus
  8. layar papan tulisnya keren, touchscreen yah bu. Wah saya malah jadi inget pilemnya Tom Cruise Minority Report.

    Pasti suatu saat di Indonesia bakal ada. SApa tau sekolah tempat ibu mengajar bakal jadi yang pertama di Indonesia

    BalasHapus
  9. indonesia sepertinya masih lama untuk menuju ke situ..

    BalasHapus
  10. Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabat Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fullllllllllllllllllllllllllllllll

    BalasHapus
  11. hari ini panas sekali ya bundo

    BalasHapus
  12. Butuh anggaran yg luar biasa besar utk menuju ke arah sana. Sementara masih begitu banyak sekolah-sekolah yg bahkan bangunan fisiknya tidak layak. Langkah awalnya mungkin perlu dibuat sekolah yg standar di seluruh pelosok negeri, baru menuju ke arah sana.. Dan, satu lagi, mental modern anak2 juga perlu disiapkan dari rumah... :)
    Mampir, salam kenal...

    BalasHapus
  13. Itulah impian saya di masa yang akan datang...
    Semua sekolah memiliki fasilitas seperti itu...

    BalasHapus
  14. hebat sekali, sampai sejauh itu perangkat di sekolah memikirkan kepentingan dan tujuan penggunaannya. belajar memang harus menyenangkan ya, mbak, agar siswa merasa termotivasi untuk aktivitas itu. dan subyektivitas memang harus diminimalisasi di dalam proses pembelajaran sehingga tidak ada siswa yang merasa minder atau terintimidasi di sekolah.

    tapi tentu semuanya terpulang kepada biaya. benar bahwa besarnya uang sekolah musti dicari tau dari madrasah modern itu. bukankah teknologi bisa digantikan dengan sistem sederhana lain yang maksimal fungsinya? misalnya dengan kinerja guru yang mumpuni seperti mbak puspita. nah!

    BalasHapus
  15. oalah Bu, kayaknya mahal banget. daya imajinasi ibu tinggi banget. Andaikan kita memiliki alat2 canggih seperti itu...??? Duh, jadi tambah pengen jadi guru Bu.. :(

    BalasHapus
  16. pendidikan di Indonesia bakalan maju.....pasti doa mbak Puspita ini bakalan terkabul. Amin

    BalasHapus
  17. @Belajar Blog; Madrasah di Indonesia sebagian besar saat ini sedang terus nmenerus berjuang memperbaiki infrastruktur. Tetap semangat.
    @Berita unik; mari kita berdoa bersa untuk perkembangan pendidikan di Indonesia.
    @Koleksi mainan; amin amin terima kasih doanya.
    @Muji; Semoga tidak lama lagi. Amin.
    @KangBoed; Salam cinta damai juga. terima kasih.
    @Singal; salam kenal kembali
    @Casdiraku; pendidikan dasar seharusnya di mulai dari rumah, jika orangtua tidak mampu melakukannya guru dapat menjadi orangtua ke dua di sekolah.
    @Deni; Semoga impian pak Deni segera terwujud. Amin.
    @Marsmallow; doakan perjuangan saya Uni, terima kasih motivasinya. Saya belum apa-apa.
    @Anazkia; menjadi guru sangat membahagiakan apalagi di era di perkembangan It yang semakin pesat seperti sekarang ini. Selamat berjuang jadi guru.
    @amethys; Terima kasih doanya mbak Wieda. Terima kasih informasinya.
    Terima kasih semuanya. Maafkan saya.

    BalasHapus
  18. canggih bener ya :D
    coba kalau di indonesia begini juga pasti mutu pendidikannya bisa bergeser ke kurva yg lebih tinggi.
    semoga bisa di terapkan di indonesia ya

    BalasHapus
  19. SPPnya mungkin nggak mahal, soalnya subsidinya kan besar
    Saya kok kadang sedih yaa anggaran 20% pendidikan malah dihambur2kan untuk hal-hal yang nggak begitu urgent, misalnya iklan yang berubi-tubi di hampir mass media yang cenderung "membohongi" rakyat. Padahal masih banyak infra struktur pendidikan yang rusak dll dll

    BalasHapus
  20. bu kalau di indonessia ada alat seperti itu mungkin hanya beberapa siswa saja yang senang dengan alat seperti itu

    BalasHapus
  21. bu maaf mengganggu,,,tapi saya lupa tugas yang diberikan bupus

    BalasHapus
  22. ngekek komennnya pak marsudiyanto

    BalasHapus