Sabtu, 15 Oktober 2011

Berminatlah pada Minat Anak Anda


Pada suatu saat, kapan waktu tepatnya saya lupa. Ada seorang tetanggga yang bertanya tentang aktifitas kedua anak  saya. Beliau mengeluhkan perilaku kedua putranya yang menurut beliau, “sulit diatur”. Setelah agak lama beliau bercerita, saya menjadi sedikit memahami maksudnya permasalannya. 
                Pada saat kita bersama anak-anak, sebagai orangtua mungkin pernah mencoba membuat Anak kita tertarik pada apa yang kita lakukan, pernahkah kita sebagai orangtua berpikir untuk mengembangkan hal-hal yang menarik minat anak kita? Hal ini akan membuat kita memiliki waktu bersama mereka.
                Memang menyenangkan sekali mengajak anak-anak menerjuni minat maupun kegiatan yang kita sukai. Hal ini menciptakan kesempatan bagi kita untuk saling berhubungan dan menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak-anak, berbagi sesuatu yang istimewa. Apakah itu sejenis hoby, bersepeda, berolahraga, bermain musik, menyanyi, membuat kerajinan tangan, mereparasi radio/sepeda maupun mobil, atau bahkan sesuatu yang sederhana seperti membaca buku, menonton film tertentu atau berjalan-jalan di persawahan maupun hutan, membuat anak tertarik pada minat kita.
                Cara lain untuk berhubungan dengan anak kita adalah dengan menaruh minat pada minat yang disukai anak kita. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada kita untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama anak-anak, saling terikat dan membahagiakan. Kegiatan ini memberikan perasaan berbeda pada anak-anak dibandingkan dengan jika kita mengajak anak-anak melakukan minat kita.
                Anak-anak begitu terbiasa mengikuti jejak dan bukan memimpin orangtua sehingga terasa menyenangkan sesekali ketika membalik peranan itu. Pada saat anak-anak semakin dewasa, anak-anak mungkin atau bahkan mulai mengajari orangtuanya hal-hal tertentu, dan pembalikan peran ini membuat mereka merasa lebih kompeten dan dewasa.
                Sering, orangtua mengharapkan anak-anaknya bersabar saat diajak melakukan kegiatan yang mereka sukai namun menjadi tidak sabar apabila kebetulan kegiatan itu adalah pilihan anak.
                Alhamdulillah kami bertiga (saya dan kedua anak saya) suka menonton film fiksi ilmiah, kami terbiasa menonton bareng tidak demikian halnya dengan Bapaknya. Namun ternyata keterlibatan saya mampu membuat anak-anak bahagia. Banyak hal yang bisa kami diskusikan. Meskipun demikian saya juga menyempatkan diri menonton kembali bagian-bagian yang paling disukai anak-anak, supaya apabila mereka suatu saat membahas film tersebut saya bisa menjelaskan dan mengerti. Sehingga anak-anak merasa dihargai.
                Pada saat pra remaja anak bungsu saya suka sekali main video game, dan suka mengoleksi kaset  game PC. Maka saya ajak dia ke hunting kaset ke Kediri dan Madiun kota terdekat dari rumah. Bahkan ke Solo dan Yogya. Bahkan saya ajak anak saya hunting kaset hingga ke Bogor, Bandung dan Jakarta. Bahkan sampai saat ini kaset koleksinya puluhan jumlahnya. Alhamdulillah dari kebiasaan bermain game dia menjadi tertarik untuk belajar animasi secara otodidak. Bahkan belajar bahasa pemrogaman secara otodidak sehingga mampu membawanya meraih prestasi sebagai finalis di tingkat Nasional. Meskipun belum mampu meraih juara Nasional namun bagi saya semua itu merupakan prestasi yang membanggakan.   
                Begitu juga dengan putri sulung saya, dia suka menari dan melukis. Karena saya tidak paham masalah tarian maupun lukisan, maka Bapaknyalah yang lebih banyak melakukan pendampingan berkaitan dengan minatnya. Meskipun baru mampu menjuarai kejuaraan tingkat kabupaten namun semua itu sudah mampu membuat dia merasa bangga dan dihargai.
                Saya melihat begitu banyak orangtua begitu sibuk mengajari anak. Tanpa pernah memberi ruang dan waktu pada anak-anaknya untuk bermain atau mencoba sesuatu tanpa rasa khawatir apakah anak melakukannya dengan benar atau berusaha memenuhi standar pekerjaan orang lain. Anak-anak suka melakukan kegiatan bersama orangtua mereka tanpa koreksi atau dilatih dengan prosedur “yang benar”.
                Biarkan anak-anak mencoba sendiri, dengan caranya sendiri, tanpa diberi intruksi, sampai kita sebagai orangtua merasa bahwa anak memerlukan petunjuk dari kita. Anda akan takjub dengan kreatifitas dan ide-ide liar anak-anak. Apabila hal ini sering Anda lakukan, Insyaallah di masa depan akan tumbuh generasi baru yang inovatif, kreatif dan bertanggungjawab.
                 

16 komentar:

edratna at 15 Oktober 2011 22:38 mengatakan...

Sebetulnya...jika kita banyak diskusi dengan anak, terasa sekali bahwa anak-anak banyak ilmunya. Saya justru banyak belajar dari anak. Orangtua memang lebih kaya pengalaman, namun untuk kemajuan saat ini, kita harus dekat dengan anak, agar memahaminya..juga belajar dari mereka.

Majalah Masjid Kita at 20 Oktober 2011 02:14 mengatakan...

kalau memang diperlukan untuk menjadi anak kecil lagi.. maka kita sudah seharusnya memang berlaku seperti mereka ketika kita sedang bersama mereka :)

bekti patria at 21 Oktober 2011 05:30 mengatakan...

terkadang, dengan mencoba memahami anak, maka anak juga akan mudah memahami orang tua.

Hajarabis at 28 Oktober 2011 00:15 mengatakan...

cuma ingin ngekuti postingan agan .
salam kenal
http://www.hajarabis.com

M Mursyid PW at 28 Oktober 2011 04:47 mengatakan...

Lama banget tidak mampir ke sini.
Saya kadang kasihan juga ma anak2 sy. Menurut saya maknya terlalu memaksakan kehendak. Kalau dapet nilai jelek suka dimarah-marahi. Jarang banget diperbolehkan main di luar.

Jun at 7 November 2011 06:56 mengatakan...

wah, semoga artikel bu Puspita dibaca oleh banyak orang. Kalo boleh saran juga nih, mungkin ada baiknya dimasukin ke lintasberita :)

Zaenal Arifin at 7 November 2011 18:56 mengatakan...

Pepatah mengatakan: "Anak-anakmu itu memang anakmu, tetapi mereka bukan kamu". Maksudnya jangan memaksa minat anak sesuai kehendak kita. Biarkan minat anak berkembang apa adanya....

Berbagi Ilmu Pengetahuan at 15 November 2011 23:57 mengatakan...

kunjungan perdana d blog bu guru, btw support & keep write :)

semangat utk para pahlawan tanpa tanda jasa, jng lupa baca Hidup Adalah Anugerah

srulz at 17 November 2011 23:09 mengatakan...

saya mrinding membacanya bu.....

Belajar Photoshop CS5 Portable at 29 November 2011 04:19 mengatakan...

dan menjadi 'anak kecil (bukan orang dewasa)' kembali adalah salah satu cara mengimbangi pola pikir mereka.. satu lagi.. jangan marah ketika kita marah sama anak :)

sukses selalu!

narno at 5 Desember 2011 01:48 mengatakan...

apa kabar Bu Guru, maaf lama tak berkunjung kemari

bayuputra at 27 Desember 2011 04:31 mengatakan...

Konsultasi dan pendekatan terhadap anak sangat pending ... dengan dekat dengan anak didik maka kita akan tahu dimana letak kelebihan dan kekurang seorang anak.

bayuputrabio at 27 Desember 2011 04:32 mengatakan...

Senang rasanya jika semua keinginan dan kreativitas peserta didik bisa kita kabulkan dan tersalurkan ...

rusydi hikmawan at 30 Desember 2011 22:25 mengatakan...

asik bisa nonton bareng sama anak2. ini jarang terjadi. semoga sukses bu dengan minat anak2nya. ditunggu kujungan dan komentar baliknya

Rubiyanto Sutrisno at 6 Februari 2012 02:46 mengatakan...

Wah artikel menarik, ya benar bu, seharusnya sebagai orang tua yang bijaksana, hendaknya tidak hanya memaksakan kehendaknya kepada anak, minat anak hendaknya juga turut dipikirkan dan dikembangkan.

Ferry Aka Jun at 24 Februari 2012 00:20 mengatakan...

Bu Puspita belum update lagi nih. Ditunggu lho update-annya :p

Poskan Komentar

 
© 2011 PUSPITA | Except as noted, this content is licensed under Creative Commons Attribution 2.5.
For details and restrictions, see the Content License | Recode by Ardhiansyam | Based on Android Developers Blog