Selasa, 01 Maret 2011

Modalitas Belajar Peserta Didik



                Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak  melalui indra yang kita miliki.
Tiga macam modalitas belajar peserta didik:
a.       Auditory              : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
b.      Visual                   : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.
c.       Kinestetik           : modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.
            Peserta didik auditory lebih suka mencatat apa yang guru jelaskan.  Selama proses , pengajaran, mereka biasanya tenang dan jarang terganggu oleh suara. seringkali tidak terganggu melihat apa yang dilakukan guru, mereka asyik membuat catatan. Bahkan lebih sering menghadap ke kanan atau ke kiri, telinganya  saja yang menghadap ke depan. 
            Pada saat proses pembelajaran berlangsung saya, sering menegur Dini. Dia terkesan mengabaikan saya, jarang sekali menghadap ke depan kecuali pada saat mengerjakan tugas atau sedang melakukan pengamatan. Catatan Dini sangat rapi dan lengkap. Nilai akademisnya baik. Interaksi sosialnya baik. Suatu saat saya panggil dia, kemudian saya ajak bicara. Mengapa pada saat pembelajaran dia terkesan tidak memperhatikan saya. Dini sendiri tidak memahami perilakunya, mengapa dia suka menghadapkan telinganya ke depan bukannya mukanya/badannya ke depan. Meskipun dia sudah mencoba, namun dia merasa lebih enjoy dan lebih memahami materi pelajaran apabila menghadap ke samping.
             Alhamdulillah tidak berapa lama saya mendapatkan ilmunya. Ternyata Dini memiliki modalitas belajar Auditory. Dan Dinipun tidak merasa bersalah lagi.
Sedangkan peserta didik visual adalah kebalikan dari peserta didik yang bersifat auditory,Selama pelajaran, mungkin mereka aktif bercakap-cakap dan dengan mudah terganggu dengan suara.  Ada gangguan suara sedikit saja konsentrasi mereka langsung buyar. Sibuk tengok kanan kiri, ingin segera melihat apa yang sedang terjadi.
Siswa visual seringkali membuat guru marah. Namun apabila pada saat pembelajaran ditampilkan video pembelajaran atau apa saja yang ada akses visualnya. Maka mereka akan diam, serius menghadap ke gambar atau layar.  Sikap mereka sangat manis dan membahagiakan. Serius bak seorang peneliti bergelar profesor. Begitulah sikap peserta didik visual.
                Bagaimana dengan Peserta didik kinestetik? Peserta didik  yang bersifat kinestetik akan memperoleh hasil maksimal jika terlibat langsung dalam aktifitas. Selama pengajaran berlangsung, mungkin mereka gelisah kecuali jika mereka dapat bergerak dan melakukan aktifitas.  
                Adi di kelas tidak pernah bisa diam, bisa duduk manis setengah jam saja sudah sangat baik. Adi suka bergerak kesana kemari.  Namun, pada saat praktikum dia bisa diam dan sangat serius melakukan pengamatan. Tidak mudah menyerah, tidak pernah kehabisan energi untuk beraktifitas. Bahkan sangat teliti.
                Menurut Dr. Howard Garner, trnyata gaya belajar peserta didik tercermin dari kecenderungan modalitas belajar yang dimiliki peserta didik.
                Selama proses pengajaran guru bisa memperhatikan perubahan-perubahan pada gaya belajar peserta didik. Dari hasil pengamatan selama proses pengajaran, guru bisa melakukan variasi pengajaran. Menggabungkan beberapa metode pengajaran pada kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.  
                Ternyata, banyaknya kegagalan peserta didik mencerna informasi dari guru disebabkan oleh ketidak sesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar peserta didik. Sebaliknya,  apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran akan sangat mudah dan menyenangkan. Guru juga akan merasa senang dan bahagia karena memiliki peserta didik yang semuanya cerdas dan berpotensi pada jenis kecerdasan yang dimilikinya.
                Semoga pengalaman sederhana ini ada guna  dan manfaatnya. Amin.

19 komentar:

Rubiyanto Sutrisno at 1 Maret 2011 16:04 mengatakan...

wah artikel yang menarik tentang pembelajaran, ....., salam pendidikan bu ....

Puspita at 1 Maret 2011 16:06 mengatakan...

Artikel sederhana ... salam pendidikan dari Ngajuk Jatim.

Puguh Utomo at 1 Maret 2011 18:22 mengatakan...

Bu, misalnya tulisan kali ini jg dibaca oleh siswa? Jika dibaca maka akan lebih baik menjadi alat komunikasi dalam pembelajaran antara guru dan siswa.

Puspita at 1 Maret 2011 19:30 mengatakan...

Artikel saya sering kami bahas di kelas. Kadang juga saya tampilkan di dinding kelas dg LCD, sebagai upaya menumbuhkan semangat menulis siswa.

Sang Cerpenis bercerita at 1 Maret 2011 21:56 mengatakan...

hmm...dulu saya termasuk tipe ygmana ya?

Sungkowoastro at 2 Maret 2011 00:16 mengatakan...

Saya komen berkali-kali, sulit masuk, Bu.

Salam kekerabatan.

Sungkowoastro at 2 Maret 2011 00:18 mengatakan...

Hanya sayang ya Bu, modalitas/kecerdasan anak yang beragam itu belum dapat tertangani dengan maksimal melalui keberlangsungan pendidikan dinegeri ini.

Salam kekerabatan.

M Mursyid PW at 2 Maret 2011 04:28 mengatakan...

Dalam mengajar memang sebaiknya kita memahami karakter masing2 siswa, Bu. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa heterogenitas karakter siswa seperti yang pak Sungkowoastro katakan diatas sering menjadi kendala dalam kita memberikan treatment. Setidaknya kita harus terus semangat dalam mengajar.

sawali tuhusetya at 2 Maret 2011 07:55 mengatakan...

karena beragamnya tipe dan gaya belajar peserta didik, rekan2 sejawat direkomendasikan utk mengajar dengan berbagai metode yang lebih variatif agar bisa memberikan layanan optimal buat mereka yang berbeda-beda tipe belajarnya itu. begitukah, bu pita?

Bung Iwan at 4 Maret 2011 22:07 mengatakan...

oo gitu. jangan2 selama ini cara belajar saya salah ya. saya lebih suka menggambar, tapi disuruh nulis2 terus di kelas dulu. ah.. saya gambarin aja tuh buku2 pelajaran. hehehhe.

salam kenal. linknya udah saya masukin blogroll :)

Rubiyanto Sutrisno at 6 Maret 2011 15:48 mengatakan...

kunjungan pagi, selamat pagi bu guru ....

joko santoso at 7 Maret 2011 01:25 mengatakan...

Begitu beragamnya karakter peserta didik, sehingga seorang guru harus mampu memahaminya, tidak salah kalau guru dijuluki dengan pahlawan tanpa tanda jasa

srulz at 8 Maret 2011 08:14 mengatakan...

seandainya, jaman saya dulu..... #eeaa
semoga tahun ini, bisa lulus semua. amin. :)

edratna at 10 Maret 2011 05:21 mengatakan...

Benar mbak, setiap orang punya gaya masing-masing dalam belajar. Saya lebih suka mencatat, tak suka diganggu, jadi selalu ingin duduk di bangku terdepan agar bisa mendengar dengan jelas.

Saat belajar juga inginnya tenang, jadi saat mahasiswa dan harus tinggal di asrama (1 kamar= 4 orang), memerlukan penyesuaian yang cukup lama.

Rusa at 15 Maret 2011 18:24 mengatakan...

semua pengalaman meang pasti bermanfaat besar ya
semangat terus mbak :)

Watch Mad Men Online at 16 Maret 2011 08:26 mengatakan...

Salam kenal dari ane Pak..! sukses selalu

winterwing at 19 Maret 2011 19:39 mengatakan...

lalu bagaimana cara mengajar siswa yang kinestetik bu? mereka kan maunya gerak terus kayak oleharaga?

humas ispi at 26 Maret 2011 02:34 mengatakan...

mantap. harus dibaca para guru.

Rusa at 27 Maret 2011 05:42 mengatakan...

enak ya siswa jaman sekarang
fasilitasnya makin maju aja :D

Poskan Komentar

 
© 2011 PUSPITA | Except as noted, this content is licensed under Creative Commons Attribution 2.5.
For details and restrictions, see the Content License | Recode by Ardhiansyam | Based on Android Developers Blog