Posting Terbaru

Rabu, 16 Februari 2011

Discovering Ability


Dalam Multiple Intelegences (MI) terdapat metode Discovering Ability, artinya proses menemukan kemampuan seseorang. Discovering Ability adalah aktifitas guru untuk menjelajahi kemampuan siswa pada saat hasil tes siswa tersebut di bawah standar ketuntasan. Metode ini menyakini bahwa setiap anak memiliki kecenderungan kecerdasan tertentu (Munif Chatib)
            Mungkin bagi sebagian guru belum pernah mendengar istilah ini. Namun ada juga yang telah memahami dan bahkan sudah pernah melaksanakannya dalam proses KBM di sekolah.
            Pada saat Kegiatan Belajar Mengajar di dalam kelas, jika kita (sebagai guru) mau sedikit kerja keras maka kita bisa memaksimalkan kecerdasan setiap siswa. Pada saat Guru menemukan kelemahan siswa, Guru tidak boleh marah atau kecewa bahkan menyalahkan peserta didik, melainkan sudah  seharus mencari sisi potitif seorang Peserta didik. Kelemahannya/kekurangannya di-stipo/di-stipex, kelebihannya kita stabilo.
            Multiple Intelegences (MI) menyarankan kepada kita untuk mempromosikan kemampuan dan kelebihan peserta didik dan mengubur ketidakmampuan atau kelemahan peserta didik. Proses menemukan inilah yang menjadi sumber kecerdasan seorang anak. Meskipun sekolah belum menerapkan Multiple Intelegence, apa salahnya guru mencobanya, melakukan proses penilaian berbasis proses.
            Pada proses pembelajaran, apabila seorang peserta didik  hasil tesnya tidak tuntas, sebelum guru melakukan tes remidial, guru melakukan discovery ability terlebih dahulu. Apabila discovery ability tidak berhasil, barulah dilakukan remidial test. Namun, saat ini masih banyak guru yang langsung meloncat memberikan remidial test, apabila peserta didik tersebut nilainya di bawah standar ketuntasan.
            Dwi, siswa kelas XI Otomasi Industri, pada saat mengerjakan soal “Tuliskan Permasalahan dampak polusi terhadap kesehatan manusia” hanya mampu menuliskan 2 alinea saja. Setelah itu berhenti, karena merasa idenya buntu. Padahal teman-temannya bisa membuat informasi tentang dampak polusi terhadap kesehatan manusia sampai beberapa alinea. Secara akademik Dwi memang pandai namun ternyata dia memiliki kelemahan linguistik.
            Guru sudah menuliskan rubrik penilaiannya. Apabila siswa menuliskan delapan  alinea, nilai 10. Jika menulis tujuh alinea, nilainya 9. Jika menulis enam alinea, nilainya 8. Jika lima alinea, nilainya 7. Namun apabila menjawab kurang dari lima alinea nilainya 6. Padahal standar ketuntasan adalah 8.
            Beruntung Dwi memiliki guru yang mau memahami kelemahannya. Sebelum melakukan remidial tes, guru melakukan discovering Ability kepada Dwi. “Dwi anak yang hebat, coba ceritakan apa saja yang kamu pikirkan tentang dampak polusi terhadap kesehatan manusia pada Bapak”. Tak lama kemudian, Dwi bercerita tentang semua dampak polusi terhadap kesehatan manusia apabila dituliskan bisa mencapai lebih dari sepuluh alinea atau bahkan lebih.
            Jika saja guru tidak mengatakan cukup kepada Dwi, dia akan terus bercerita sepanjang waktu. Akhirnya, guru memutuskan untuk memberi 10 pada soal ini, bukan nilai 6.
            Karena mendapat perhatian dari guru, Dwi merasa termotivasi untuk menulis. Mulai hari itu Dwi mampu menuliskan ide maupun imaginasinya berlembar-lembar bukan hanya sebatas dua alinea di dalam blog pribadinya.
            Discovering Ability juga dapat diartikan meminta peserta didik menjawab soal yang sama dengan cara yang berbeda. Apabila dicovering ability ini tidak berhasil, barulah dilakukan remidial test (tes pengulangan).
           
           

Reaksi:

10 komentar:

  1. gurunya hebat!!!

    kadang sih qta2 itu emang agak bingung klo disuruh nulis,
    tapi klo soal ngomong sih pasti nyerocos...
    hehe

    ada lebah berdengung
    ada orang towel-towel
    klo nulis malah bingung
    klo ngomong malah bawel

    :)

    BalasHapus
  2. Pagi-pagi dapat pantun, bahagia sekali bisa dibagi di sekolah. Terima kasih.

    BalasHapus
  3. Membangun kepercayaan diri siswa tidak kalah pentingnya dibanding transfer pengetahuan.

    salam kenal , bisakah tukeran Link ???

    BalasHapus
  4. Benar Pak, manggo silahkan kalau mau tukeran link.

    BalasHapus
  5. tak semua pendidik dapat mengerti akan kemampuan pada peserta didiknya, dan itulah yang sering membuat kesalah pahaman dalam proses KBM.

    salam kenal

    BalasHapus
  6. Betul ... betul!. Salam kenal kembali.

    BalasHapus
  7. Wahh mbak ...tulisan yang bagus, dan jika guru diberikan pemahaman tentang ini, maka suasana belajar di kelas akan menyenangkan, karena kemampuan siswa bervariasi apalagi karakternya. Kadang yang terlihat mengantuk, tak menyimak, mungkin tipe seperti anak saya....

    Dalam dunia kerja juga dikenal adanya penilaian oleh assessor, untuk menilai kemampuan pegawai apakah mampu menduduki jabatan tertentu, penilaian dilakukan secara komprehensip. Para assessor telah dibekali ilmu bagaimana menilai para asessee.

    BalasHapus
  8. Model penjelajahan kecerdasan peserta didik yang lebih menyeluruh ini patut untuk dikampanyekan di semua lembaga pendidikan formal, ya Bu.
    Salam kekerabatan.

    BalasHapus