Posting Terbaru

Kamis, 06 Januari 2011

Merubah Trouble Marker Menjadi Achievement Maker


Di dalam setiap kelas pasti ada anak yang suka membuat onar (trouble maker), apalagi di SMK seperti tempat saya mengajar ini. Kebetulan saya mengajar di SMK Negeri jadi trouble maker tidaklah sebanyak di SMk swasta. Meskipun begitu kita (sebagai guru) harus belajar menangani anak-anak yang suka membuat onar. Mengubah trouble maker (pembuat onar) menjadi achievement maker (pembuat prestasi) tidaklah semudah membalik telapak tangan, namun trouble maker merupakan tantangan yang harus ditaklukkan, bukan untuk  dihukuman dan dilecehkan. 
                Salah satu solusinya adalah dengan menggunakan MI (Multiple Intelegensi). Beberapa waktu yang lalu saya pernah menuliskan tentang profil Edy, namun pada dasarkan masih banyak trouble maker-trouble maker yanglain yang tidak kalah menariknya untuk di ceritakan.
                Novan adalah anak yang tergolong trouble maker di kelasnya. Semua guru mengeluhkan sikapnya selama proses pembelajaran berlangsung. Pada awalnya saya juga sering kecewa pada sikapnya, namun sejak saya lakukan proses pendekatan dari hati ke hati akhirnya Novan tidak pernah mengganggu lagi bahkan dia kini menjadi siswa yang paling mengasyikkan serta penuh percaya diri pada saat proses pembelajaran berlangsung. 
                Novan menjadi trouble maker di kelas akibat permasalahan keluarga, bapak ibunya cerai waktu dia masih kecil. Dan sudah lama dia tidak pernah bertemu dengan bapaknya.  Sejak dia mau membuka diri pada saya, hatinya mulai tenang dan Alhamdulillah setengah tahun yang lalu dia bisa bertemu dengan Bapak yang dirindukannya yang sudah menikah lagi dan berada di luar kota. Semua itu terjadi berkat ketekunannya berdoa dan  terus menerus melakukan afirmasi positif bahkan berani melakukan proses visualisasi. Novan kini sudah banyak berubah pada awalnya dia seorang trouble maker namun kini Novan sudah berubah menjadi Achievement Maker ( pembuat prestasi), semoga semester genap ini prestasinya semakin meningkat. Amin            
                Kunci keberhasilan mengubah trouble maker menjadi achievement maker adalah sebagai berikut:
1.       1. Kesabaran sangat dibutuhkan dalam mendidik dan mengatasi anak trouble maker.
2.       2. Kenali masalahnya, bisa juga anak menjadi trouble maker akibat kemiskinan atau akibat trauma.
3.       3. Perhatian dan kasih sayang yang tulus sangat dibutuhkan untuk pembentukan dan perubahan karakter anak.
4.      4.  Kenali kunci kecerdasan anak untuk masuk ke dunia mereka. Sehingga kita sebagai guru bisa mengtahui gaya belajar anak.
5.       5. Multiple Intelegensi (MI) merupakan solusi terbaik dalam mengatasi anak trouble maker.

Reaksi:

7 komentar:

  1. Kalau dalam mendidik anak mestinya seperti itu, melihat dari berbagai aspek.
    Di sekolah kadang hanya dilihat dari sisi negatifnya saja, sehingga seolah ada stempel negatif yang terus melekat.
    Jarang ada guru yang "sempat" untuk mengurai permasalahan anak secara komprehensif. Anak kadang sungkan, apalagi kalau guru BP kan jarang berinteraksi dengan siswa sehingga tidak ada kedekatan dengan siswa.

    BalasHapus
  2. @BIG SUGENG; setiap anak memang unik. Sudah waktunya sekolah menerapkan Multiple Intelegences. Semoga ke depan pendidikan di Indonesia semakin baik. Amin.

    BalasHapus
  3. artikel yang sangat menarik bu guru,mudah2an banyak para guru yg mampir ke blog ibu dan membaca artikel ini

    BalasHapus
  4. wah kalau saya biasanya suka pusing dan bikin sakit hati bu .. kalau ketemu siswa yang seperti itu ...
    kalau troblenya dah kelewatan paling saya dekatin mungkin karena dia ada masalah keluarga atau juga sedang mencari simpati lawan jenisnya ..

    BalasHapus
  5. Woww,,, Cukup menarik Bu,, saya yakin teknik2 seperti ini akan sangat bermanfaat bagi sekolah, apalagi khususnya sekolah SMK,,,

    Salam semangat selalu

    BalasHapus
  6. @centra pulsa ; terima kasih kunjungannya. Untuk menerapak Mi memang tidak mudah apalagi untuk sekolah pinggiran seperti sekolah kami. Semoga pendidikan di Indonesia semakin baik. Amin.
    @bayuputra; Pak guru Bayu jangan suka pusing ... anak-anak mmerlukan perhatian dan kasih sayang. ha ha ha !
    @bocahbancar; terima kasih kunjungannya, di SMK banyak kendala terutama akibat ekonomi orangtua dan permasalahan keluarga. Terima kasih motivasinya.

    BalasHapus
  7. memang perlu kesabaran yang tinggi untuk menghadapi anak anak yang suka bikin ulah dikelas. sebagai seorang guru kita juga perlu trik dan tips untuk menarik perhatian anak salah satunya dengan ice breaking activities.

    BalasHapus