Posting Terbaru

Sabtu, 23 April 2011

Pujian Secara Verbal yang Menyesatkan


Salah satu strategi yang biasa dilakukan guru untuk meningkatkan kepuasan peserta didik adalah melakukan pujian secara verbal. Pujian yang sering diucapkan guru, misalnya: “Bagus”, “Tepat sekali”, “Benar, lanjutkan”, “Indah sekali”, “Tepat, teruskan” dan masih banyak lagi yang lainnya.
                Namun tanpa disadari, guru sering memberikan pujian yang berbahaya, karena justru menimbulkan permasalahan bagi peserta didik. 
Begini ceritanya:
a.      * Memuji sekaligus mengancam. Misalnya: “Bagus sekali, jangan sampai salah lagi. Saya kurangi nilaimu”. Guru bermaksud memuji dan memberi motivasi atau penguatan, namun peserta didik justru jadi takut dan ragu-ragu untuk menyelesaikan tugasnya. Mereka takut kalau membuat kesalahan, takut kalau nilainya dikurangi. “Benar sekali, tumben benar. Biasanya kamu menjawab salah atau bisa juga “Ya benar sekali, tidak seperti sebelumnya. Kacau!”. Maksud guru memberi pujian, namun ternyata guru tersebut sekaligus menghina. Peserta didik merasa kecewa ketika kesalahannya diungkit-ungkit, dan merasa keberhasilannya kali ini tidak bermakna.
b.     * Memuji sekaligus membandingkan dengan teman lain. Misalnya: “Ya, pekerjaanmu rapi. Tidak seperti pekerjaan temanmu sangat berantakan”, “Tepat sekali, tidak seperti  temanmu tidak jelas jawabannya”, “Indah dan rapi, tidak seperti lukisan temanmu, jelek dan jorok”. Pujian guru ini mampu menimbulkan semangat dan kepuasan peserta didik tersebut, namun menimbulkan ketidaknyamana bagi peserta didik yang lainnya, terlebih yang dicela atau yang dibandingkan dengannya. 
Ternyata memuji ada ilmunya. Tidak asal memuji supaya tidak menimbulkan iri dan sakit hati. Guru perlu fokus pada hal yang baik yang telah dilakukan peserta didik tersebut, tidak perlu membandingkan dengan pekerjaan sebelumnya, apalagi membandingkan dengan peserta didik yang lainnya. Sebaiknya guru memuji dengan membandingkan prestasi sebelumnya, “ Bagus, jawabanmu tepat semua. Ada peningkatan dibandingkan tugas-tugas sebelumnya. Terima kasih”
“Memuji pakai hati”, ini pesanan peserta didik kami. Karena kalau saya memuji,  mereka kadang bergurau, “Pakai hati bu?, Tidak perlu pakai sambal”. 
Bentuk pujian yang diucapkan guru sangat berpengaruh pada perilaku siswa. Mari kita fokus pada perilaku positif sehingga pujian menjadi lebih efektif.


Reaksi:

12 komentar:

  1. Bu ,kalau memujinya begini gimana
    "pekerjaanmu bagus,tapi saya yakin kamu bisa lebih baik lagi"

    BalasHapus
  2. Seharusnya seperti itu. Sehingga siswa termotivasi untuk bekerja / belajar lebih baik lagi.

    BalasHapus
  3. yaaa...yaaaa...yaaaaaa.....
    kayaknya uda pnah dbahaz deh..ckck

    BalasHapus
  4. Kalau saya 50-50 Mbak...
    Kalau salah sekecil apapun pasti saya tegor, atau minimal saya sindir.
    Dan kalau kebaikan, meski sdikit pasti saya puji.
    Dan murid saya sangat respek dg yg saya lakukan

    BalasHapus
  5. @Anonim; masalah tumbuh kembang anak memang seringkali dibahas. Tentu saja dengan versi yang berbeda-beda.

    @marsudiyanto; terima kasih pencerahannya.

    BalasHapus
  6. Ya makasih yaa.. jangan berharap di pujideh.. hehe

    BalasHapus
  7. niat hati menyenangkan orang malah bikin sakit hati. Harus dibiasakan nih pake ilmu memuji :)

    BalasHapus
  8. Memuji dan memotivasi memang perlu ilmu
    saya banyak belajar dari mba puspita lewat blog ini

    BalasHapus
  9. Hari dipilih dengan bijak kata2nya ya :)

    BalasHapus
  10. Selamat hardiknas teman,,,succes for you!

    BalasHapus
  11. ada guru yang bahkan tak bisa memuji!
    gimana tuh ya?

    BalasHapus
  12. Pujian positif membangun karakter orang yang dipuji semakin mulia dan yang lebih penting adalah ia dapat menghargai orang lain.

    Salam kekerabatan.

    BalasHapus