Posting Terbaru

Minggu, 22 Februari 2009

Gagal Itu Penting

GAGAL ITU PENTING

Banyak orang gagal yang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan kesuksesan ketika mereka menyerah. (Thomas Alfa Edison)
Pada prinsipnya anak itu seorang ilmuwan sejati sebuah pribadi yang sangat kreatif yang selalu ingin tahu hal-hal baru. Mereka selalu ingin menonjol di depan orang lain, merasa tertantang untuk mencoba petualangan yang bagi orang lain mustahil, dan mereka berfikir tantangan baru tersebut harus dituntaskan.
Anak-anak berlomba ingin menjadi yang nomor satu, ingin mendapatkan yang terbaik, ingin dipuji dan ingin dihargai. Fenomena seperti ini lumrah pada diri seorang anak karena mereka memiliki ego secara naluriah.
Tetapi pada suatu titik anak menjadi penakut dan tidak sekreatif sebelumnya, dan cenderung menunggu diperintah atau dipaksa melakukan sesuatu. Hal ini tidak lain karena ketika mereka mulai tumbuh dewasa, tumbuh menjadi orang yang takut pada kegagalan. Cenderung mudah putus asa. Sungguh ironis!.
Anak kecil berani karena mereka belum tahu apa itu bahaya, bagi mereka tidak ada kamus kegagalan. Kita bisa ambil contoh, ketika bayi belajar berjalan. Sebuah penelitian ilmiah pernah menyimpulkan bahwa bayi harus jatuh sekitar 240 kali sebelum dapat berjalan. Seorang anak kecil belajar naik sepeda, mereka jatuh berkali-kali tetapi berani bangkit dan berusaha lagi. Walaupun kaki mereka berdarah-darah karena terluka, mereka tidak mundur. Mereka terus mencoba dan mencoba lagi sampai akhirnya mereka bisa. Dan berhasil.
Siapa yang tidak mengenal Thomas Alfa Edison ?. Orang yang sangat berjasa menerangi dunia ini, seorang penemu terbesar sepanjang masa, memiliki lebih dari 1000 hak paten. Apa yang membuat banyak orang begitu kagum kepadanya ialah sikapnya yang gigih ketika memperjuangkan sesuatu. Dalam proses menciptakan bola lampu, pria yang tidak pernah menempuh pendidikan formal ini mengalami kegagalan beribu-ribu kali. Konon mencapai 9.999 kali. Banyak orang menyarankan agar beliau menghentikan percobaannya, namun Edison pantang menyerah.
Dan ketika ia berhasil menemukan bola lampu, seseorang bertanya kepadanya, “Pak Edison, kabarnya Anda telah gagal beribu-ribu kali sebelum berhasil?”. Mendengar pertanyaan itu, Edison hanya santai berujar, “Siapa bilang saya gagal? Saya sama sekali tidak pernah gagal. Saya justru menemukan ribuan jenis bahan yang tidak dapat digunakan untuk membuat bola lampu”.
Di dalam proses belajar mengajar, sering kali guru dihadapkan pada fenomena, belum berusaha mencoba mengerjakan soal ujian, siswa sudah merasa kesulitan atau menyerah, belum apa-apa sudah ada usaha untuk mencontek, hal ini mengakibatkan suatu persoalan yang sebenarnya mudah menjadi sulit, karena sebelum mencoba mereka sudah kehilangan energi positif untuk menghadapi resiko.
Di dalam masyarakat kita, seorang anak baru diakui dan diterima, ketika memiliki prestasi akademik yang sempurna. Hampir seluruh aktivitas belajar mengajar mengacu pada pencapaian nilai (grade). Hal ini berakibat timbulnya kebiasaan mencontek dikalangan siswa, karena mereka takut gagal mendapatkan nilai akademik sempurna. Kebiasaan ini bukan salah siswa/anak melainkan kesalahan sistem pendidikan, di sekolah, keluarga maupun masyarakat.
Di Jepang, ketika seorang anak pulang sekolah, bukan nilai ulangan atau nilai akademik yang orangtua tanyakan pada anak, melainkan sudah berbuat baik apa ketika di sekolah. Salah satunya mengerjakan ulangan dengan jujur, apapun resikonya, berapapun nilainya. Bukan hasil yang diharapkan melainkan proses pembelajaran yang diperlukan, agar anak mampu mengubah kegagalan menjadi peluang.
Kegagalan dalam bentuk apapun, bukanlah merupakan sesuatu yang memalukan sepanjang kita mau belajar darinya dan tidak mengulanginya di kemudian hari.
Setiap hari anak/ siswa harus diberi kesempatan untuk berjuang mencapai sukses.
Kegagalan adalah suatu proses pembelajaran yang harus dilalui oleh setiap anak untuk menjadi manusia dewasa yang berani mengambil resiko, berani menghadapi tantangan untuk meraih sukses dengan perjuangan dan kejujuran.
Gagal itu penting, karena memberikan pelajaran yang sangat berharga. Karena saat kita gagal, kita telah diberi kesempatan untuk menemukan sesuatu yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya, atau perlu memperbaiki proses sebelumnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Orang yang tidak pernah mengalami kegagalan, cenderung merasa di atas angin dan menjadi tinggi hati. Kegagalan mengajarkan kepada kita untuk rendah hati, dapat pula meningkatkan kehidupan spiritual.
Oleh sebab itu, gagal itu penting. Dengan mengalami kegagalan seseorang akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang mampu menemukan energi sukses yang tak terbatas, yang baru muncul setelah mengalami suatu kegagalan.
Proses inilah yang sering kali tidak dihargai di sekolah, keluarga maupun masyarakat.
Sudah saatnya, guru, orangtua dan masyarakat menjembatani rentang kreatifitas yang hilang di usia dewasa, karena sekali lagi di usia dewasa, kreatifitas yang dimiliki ketika anak-anak hilang dengan bergulirnya waktu, karena tidak mendapatkan ruang dan waktu serta peluang untuk berani menghadapi kegagalan, atau menjadi manusia dewasa yang mudah sekali putus asa, karena takut gagal.
Setiap anak harus diberi ruang dan waktu untuk berani menerima keterbatan diri melalui kesalahan dan kegagalan, karena gagal itu penting.

Reaksi:

4 komentar:

  1. Pinginnya sih hidup ndak pernah gagal! Bisa ndak ya?!.

    BalasHapus
  2. Yap!
    Dengan gagal orang ajdi tau gimana rasanya jatuh, dan kalo dia punya mental baja, daia akan tau bahwa jatuh ini membuat belajar untuk bangkit dan trus berdiri melawan angin!

    Happy bloging bu, jangan lupa berkomentar di blog saia
    kapan kita internetan bareng???

    BalasHapus
  3. Tak ada manusia yang sempurna. Tak ada manusia yang mau gagal. Karena kegagalan itu menyerang psikis seseorang. Mental baja hanya dimiliki satu diantara berapa juta manusia dalam populasi. Makanya jangan mengentengkan kegagalan atau berharap ada mental baja. Bayipun maunya juga bisa jalan tanpa terjatuh, buktinya tiap jatuh menangis, gagal berarti sakit dan kesedihan, siapa yang mau? Indonesia saja setelah krisis ekonomi 1998 belum bisa bangkit hingga sekarang, padahal berpenduduk 200 juta lebih, pada kemana mereka yang bermental baja?

    BalasHapus
  4. Kiki,
    Tapi pada prinsipnya kegagalan itu merupakan ilmu baru bagi manusia, kalau mau mensikapi secara positif.
    Dan perlu diingat, bahwa di balik satu kegagalan tersembunyi dua kemudahan, maka fokuskan pada dua kemudahan yang dijanjikan Tuhan.
    Meskipun pahit kita harus berjuang melewatinya. selamat berjuang! terima kasih. Semoga Tuhan membalas kebaikanmu pada ibu. Amin.

    BalasHapus